A password will be e-mailed to you.

Dua hari terakhir, linimasa twiter dan juga media-media mainstream disibukkan dengan undangan pesta bikini. Undangan pesta itu diselenggarakan oleh sekelompok ABG yang penasaran dengan estetika anatomi tubuh mereka.

Bisa ditebak, nyaris semua warga Indonesia yang sangat religius tapi gemar korupsi ini angkat bicara. Mulai dari Gubernur yang bacotnya berkarakter, Ahok, kemudian para pendidik, hingga mahasiswa semua angkat bicara. Puncaknya adalah saat polisi memutuskan menjadi polisi moral yang merasa berhak dan bertanggungjawab pada kebaikan moral warganya.

Lebay? Ya. Sikap lebay itu sebenarnya salah satu ciri kebebalan. Istilah lebay sendiri dilahirkan dari rahim kreatifitas para ABG. Nah ketika guru kreatifitas itu dikit-dikit diawasi, barangkali ke depan tak akan lahir istilah-istilah seru seperti kosa kata lebay itu.

Lebay itu penyederhanaan dari kosa kata overgeneralisasi. Atau ada istilah lain yang lebih ilmiah, Fallacy of Dramatic Instance.

Overgeneralisasi sesungguhnya adalah sikap malpikir, yakni cacat berpikir yang mencoba untuk membuat simpulan berdasarkan data-data parsial. Sikap lebay ini bisa terjadi ketika ada asumsi bahwa entitas-entitas yang dipersepsikan itu identik dengan yang lain dan tak mungkin berubah.

Sebagai warga Indonesia yang sangat religius, selalu meneriakkan Allahu Akbar sambil merusak tempat ibadah, sambil mengacungkan pedang ke orang diluar golongan kita, seharusnya sudah paham bahwa semua ciptaan Tuhan berbeda satu sama lain. Yang sama hanyalah bahwa korupsi di negeri ajaib ini tak pernah serius dianggap kejahatan.

Nah, kembali ke soal pesta bikini. Asumsi bahwa pesta bikini itu akan menjadi ancaman moral bagi kelangsungan hidup bangsa. Seakan-akan jika pesta itu jadi berlangsung, Indonesia bisa bubar. Atau paling jelek, semua warganya masuk neraka. Jika asumsi sudah tersebar dalam skala massif, maka yang muncul ke permukaan hanyalah paradigma dangkal an sich.

Sikap lebay itu sumbernya sepele. Malas berpikir tentang keanekaragaman yang ada. Malas belanja informasi dan merasa paling tahu segalanya. Sikap atau kultur yang berbeda dengan dirinya, akan dianggap sebagai ancaman. Hal itu karena sikap monolitik dalam memaknai kehidupan. Etnosentrisme lahir dari cara pandang seperti ini.

Nah, bagaimana cara pandang lebay atawa overgeneralisasi terhadap kaum ABG yang penasaran dengan estetika anatomi tubuh mereka. Benarkah pesta bikini itu merusak moral bangsa? Benarkah korupsi para pejabat karena pengaruh selembar kain bernama bikini?

Bagaimana seandainya ide pesta bikini para remaja pembelajar alam ini adalah bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan moral pejabat. Perlawanan karena anak-anak itu tak pernah mendapat kepercayaan. Di sekolah ia dicurigai akan mencontek saat mengerjakan UN. Di rumah ia dicurigai tak pernah belajar. Di masyarakat, iapun dicurigai sebagai penggemar berat tawuran.

Ketika secara kreatif menciptakan istilah-istilah anak muda, ternyata pakar linguistik juga menganggap mereka berpotensi merusak tatanan bahasa. Muaranya, negara memperlakukan mereka sebagai obyek dalam proyek ini itu berbungkus pembinaan kenakalan remaja, dengan anggaran bermilyar-milyar rupiah. Celakanya, mereka tak pernah tahu program-program itu.

Mari kita sikapi pesta bikini itu dalam perspektif lain. Saya berani memastikan, saat pesta berlangsung, ada bagian tubuh yang diumbar. Kemudian muncul opini ada norma sosial yang ditampar. Namun norma sosial seperti apa? Moral hipokrit? Atau moral apa?

Helmut Newton adalah seorang fotografer berkebangsaan Jerman-Australia. Ia pernah membuat foto tentang tubuh dan busana yang dimuat di majalah Vogue.

Tak disangka, ide pemotretannya sangat sederhana namun mampu membuka ruang kesadaran kemanusiaan siapapun. Awalnya, Newton memotret model-modelnya dengan pakaian dari desainer top. Kemudian ia melanjutkan pemotretan dengan model yang sama, ekspresi yang sama, pose yang sama, tata cahaya sama, gesture sama persis.

Bedanya, dalam foto kedua ini, sang model tak mengenakan apapun. Sang model telanjang bulat. Serial foto itu kemudian diberi judul Naked and Dressed.

Pesan yang ingin disampaikan Newton adalah bahwa manusia itu, ternyata memiliki esensi yang sama. Andai peradaban tak mengenal pakaian, barangkali manusia tak perlu merasa malu dan menutup aurat. Fungsi pakaian hanyalah untuk survival. Melindungi tubuh dari terpaan udara ekstrem atau gangguan alam lainnya.

Nah, ketika kesadaran muncul, tak perlulah bersikap lebay terhadap kreatifitas anak-anak muda. Seakan-akan moral anak-anak muda itu paling bobrok dibanding kelakuan haji-haji yang mendekam di penjara karena korupsi. Seakan kelakuan anak-anak muda itu lebih merusak bangsa dibanding pejabat yang gemar menyantuni anak-anak yatim dan menggelar pengajian, sambil diam-diam menggendutkan rekeningnya dengan jalan pintas, mengeruk uang negara.

Lewat ke baris perkakas