A password will be e-mailed to you.

Secangkir kopi belum tandas kusesap, Kang Soleh sudah datang. Padahal, aku sudah cepat-cepat menghabiskan kopi Gayo dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah. Sebab, jika sampai Kang Soleh ikut ngopi, bisa meriah mulutnya. Komentar inilah, itulah, yang ujung-ujungnya cuma akan bilang,”Ada kopi yang bisa dibawa pulang, Gus?” Malam itu, dia mengabarkan akan datang untuk membahas urusan yang sangat penting: anaknya tidak mau disuruh salat.

“Kita memang tidak boleh menyuruh orang salat, Kang,” ujarku.
“Lho, kok tidak boleh?” sergah Kang Soleh, yang keliatan sekali bingung.
“Tidak boleh menyuruh orang salat. Biar dia selesaikan dulu salatnya, baru boleh disuruh-suruh.”
“Halah.. Sampeyan minta disalatkan?”

Akhirnya, aku harus menyediakan kopi buat Kang Soleh. Dia tidak bisa diajak bercanda kali ini. Sepertinya, persoalan yang dibawanya dari rumah sungguh pelik. Selama ini, Kang Soleh memang mengaku salatnya masih bolong-bolong alias tidak genap lima waktu. Tapi, dia ternyata gelisah juga ketika mendapati Sodik, anaknya, tak mau disuruh salat. Naluri kebapakan membuatnya sadar bahwa anak seharusnya lebih baik dari bapak. Jangan ikut bolong-bolong.

“Gus, bagaimana sih cara Sampeyan menyuruh anak-anak Sampeyan salat?”
“Lha Sampeyan bagaimana?”
“Ya saya suruh: Sodik, sana salat!”
“Bukan begitu caranya. Kalau mau menyuruh, meminta, memanggil atau menyeru orang untuk salat, caranya ya seperti yang diajarkan Rasulullah pada Bilal.”
“Bagaimana itu?”
“Ya Sampeyan adzan.”
“Adzan di depan Sodik?”

Tergopoh-gopoh Kang Soleh pamit dari beranda rumahku. Dia rupanya tidak sabar ingin mempraktikkan cara untuk menyuruh Sodik, anaknya, salat. Meski suara Kang Soleh pecah sehingga jauh dari merdu, dia hapal lafal adzan. Tak bisa dibayangkan dia akan berdiri di depan Sodik, menutup telinga kanannya dan mulai melantangkan kumandang adzan. Pasti Sodik yang sedang suka-sukanya memegang gajet akan kaget bukan kepalang.

Bakda Maghrib datang ke sini, Kang Soleh meninggalkan begitu saja kopi yang masih setengah cangkir. Pasti dia ingin mengejar waktu Isya’ agar tidak terlambat mengadzani anaknya, eh, maksudku adzan di depan anaknya.

Tak lama berselang setelah aku selesai wudhu untuk salat Isya berjamaah bersama keluarga, kudengar gerbang pagar dibuka. Lalu, teriakan Kang Soleh memecah suasana.

“Gus! Assalamu’alaikum!”
“Wa ‘alaikum salam. Untung, belum kubereskan kopi Sampeyan. Ada apa lagi, Kang?”
“Ini, Sodik kok tetap tidak mau salat, ya?”
“Padahal Sampeyan sudah adzan?”
“Sudah, Gus. Sesuai instruksi Sampeyan.”
“Trus?”
“Trus, mata Sodik cuma mendelik sebentar, lalu balik memelototi gajet lagi.”
“Walah..”
“Bagaimana dong supaya Sodik mau berdiri dan salat? Seharian duduk saja main games.”
“Pasti karena Sampeyan belum iqamat.”
“Lho? Harus iqamat juga?”
“Lho, bagaimana tho.. Ya, iyalah.”

Lari lagi ke rumahnya, Kang Soleh yang tinggal hanya berjarak dua rumah dari kediamanku bersemangat sekali untuk menyuruh anaknya salat. Antara lega dan menyesal perasaan Kang Soleh. Lega, Sodik akhirnya mau disunat. Tapi, menyesal karena dia mengiyakan syarat Sodik untuk hadiah khitan, yakni gajet. Bukannya mulai salat sejak akil baligh, Sodik malah jadi asyik dengan dunia barunya yang disediakan oleh teknologi.

Aku baru membatin teriakan iqamat-nya yang sangat keras sampai terdengar dari sini, ealah kok sebentar kemudian Kang Soleh sudah lari lagi ke rumahku.

“Ada apa lagi, Kang?”
“Sudah bergerak. Bangkit dari kursi.”
“Trus?”
“Tapi kok tetap belum mau salat?”
“Adzan?”
“Sudah!”
“Iqamat?”
“Mmm..”
“Kurang apa lagi, coba? Semua cara sudah kulakukan.”
“Kurang satu: Sampeyan imami Sodik salat berjamaah.”
“Wah, tapi Gus.. Saya ini kan..”
“Kalau begitu, ajak ke masjid, Kang.”

Kang Tejo tertegun mendengar ceritaku tentang Kang Soleh itu. Dibenarkannya posisi topi koboi yang dipakainya ke mana-mana itu. Pernah terpikir olehku untuk menghadiahkan topi koboi yang kubeli di Melbourne, tapi kubatalkan niat itu. Kupakai sendiri saja, sudah.

“Tapi, Gus, salat itu sebenarnya menyembah siapa?”
“Menyembah Allah, Kang.”
“Allah yang mana?”
“Lha Sampeyan mau Allah yang mana?”
“Maksudmu?”
“Allah yang Dzat, Dia tidak butuh untuk disembah. Ibadah kita tidak menambah KeagunganNya dan maksiat kita tidak mengurangi KeagunganNya.”
“Nah!”
“Nanti dulu. Allah yang Sifat, ada dua puluh sifat ditambah satu yaitu Jaiz atau sesuka-sukaNya.”
“Dua puluh?”
“Belum lagi Allah yang Asma, ada 99 nama Allah yang termashur yang kita kenal dengan sebutan Asmaul Husna.”
“Wah, lebih banyak lagi.”
“Kalau Allah yang Af’al..”
“Nanti dulu, Af’al itu apa?”
“Af’al itu perilaku atau perbuatan. Perilaku Allah tidak terbilang dan tidak berbilang. Allah memang bukan bilangan. Trus, Allah yang mana yang Sampeyan maksud?”
“Wah, yang mana ya?”

Kang Tejo tercenung. Dia jadi bingung dengan pertanyaannya sendiri, apalagi kujawab dengan mengembalikan lagi pertanyaan itu kepadanya. Kepadanya kunukilkan perjalananan para nabi untuk mengenal Tuhannya, termasuk Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang sangat panjang dalam bertauhid, terutama sejak diangkat sebagai Nabi dan Rasul pada usia 40 tahun pada malam Nuzulul Qur’an, suami Khadijah ini menempuh 13 tahun untuk kemudian menerima perintah salat pada usia 53 tahun pada malam Isra’ Mikraj.

“Sampeyan sekarang berumur berapa, Kang?”
“Hampir 53 tahun, Gus.”
“Wah, sepantaran dengan Rasulullah ketika itu. Bedanya, Sampeyan masih bertanya salat itu menyembah Allah yang mana.”

Kemuliaan-kemuliaan dan rahasia-rahasia memang Allah turunkan pada malamhari. Aku bahagia juga Kang Soleh datang malam ini. Sekarang, dia sudah rajin belajar mengaji. Proses masing-masing orang memang berlainan. Dan umur bukan menjadi satu-satunya faktor. Memang, kesadaran sejak muda adalah pencerahan dan kesadaran ketika sudah tua adalah penyesalan, tapi lebih baik menyesal daripada tidak.

Wilayah manusia pada proses, Allah-lah yang menetapkan sampai batas mana usaha kita dan Dia yang menentukan hasilnya. Manusia yang berdakwah, Allah yang memberi hidayah. Karena itulah, percuma merasa diri paling benar. Sebab, petunjuk datang hanya dari Allah. Dan kesesatan tak bisa dihadang selain dengan pertolongan Allah pula. Oleh karena itu pula, aku santai saja bertemu dan berbicara dengan siapa pun tanpa bertanya, apalagi mempertanyakan, agama dan keyakinannya.

Juga ketika seorang pemuda yang sedang bersemangat-semangatnya belajar ilmu agama menghampiri aku.

“Gus, kok Sampeyan tidak pernah kelihatan salat, sih?”
“Memang ada syarat sah salat harus kelihatan?”
“Enggg.. Tidak ada.”
“Ya sudah.” []

penulis : Candra Malik

(praktisi Tasawuf yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan)

Lewat ke baris perkakas