A password will be e-mailed to you.

Setahun lalu, sebuah pesan BBM masuk, mengabarkan simbok (ibu) saya meninggal dunia. Saya langsung berpamitan ke istri saya yang sedang sakit. Kemudian bersiap-siap pulang.

Saat bersiap itu sebuah pengumuman dari musholla Al Iman dekat rumah juga berteriak. Mengabarkan meninggalnya salah satu warga. Kabar dari musholla Al Iman itu, segera disahut dan diulang oleh loudspeaker dari musholla Al Hidayah di RT saya.

Dari dua pengumuman ini, ternyata memiliki gaya mengumumkan yang berbeda. Di musholla Al Iman, bergaya dingin, cool dan nada datar. Sementara yang dari musholla satunya nadanya rendah namun penuh dramatisasi.

Mulai dari BBM yang masuk hingga suara dari musholla ini, ternyata menjadi alarm maha penting bagi hidup yang akhirnya harus mati. Seringkali alarm itu bertebaran, namun sungguh seringkali alarm itu seperti weker yang berbunyi, bukannya bangun namun malah dimatikan.

Tendensi manusia hidup itu selalu saja lupa mati. Jika memungkinkan, pasti akan menolak mati. Karena tendensi itu, maka hidup yang sekedar menunggu itu digunakan untuk membunuh dengan memperkosa rame-rame, membunuh sekedar kecewa sedikit saja, korupsi dan membakari hutan. Volume usus yang hanya menampung beberapa sendok makan saja, banyak diisi dengan cara-cara yang dramatik. Memotong gunung, menguruk laut, menguras tambang galian.

Wow. Pertanda apa pula ini?

Ternyata tingginya ilmu pengetahuan selalu saja menyalahpahami hidup. Pemahaman menggapai kenyamanan dan pemuasan diri terus menanjak, tetapi pemahaman akan kematian terus merosot. Apa indikatornya? Mudah banget. Yaitu daftar kerusakan yang semakin panjang.

Lifestyle destruktif selalu diperagakan mereka yang sangat gemar hidup. Menyenangi hidup sambil melupakan hukum alam yang bersifat pasti, yaitu kematian.

Maka, alarm kematian itu memang bertebaran. Salah satunya ada ponsel. Tugas kita hanyalah memungutnya, agar hidup lebih hidup. Losta Masta.

Penulis:

edhie prayitno ige

(penulis, cerpenis, novelis – tetangganya pak prapto)

Lewat ke baris perkakas