A password will be e-mailed to you.

 

Hampir setiap hari, kita melihat orang gila. Memang ada bermacam orang gila. Tapi yang paling menarik adalah memperhatikan orang gila yang suka tersenyum. Banyak hal yang mengagumkan dari orang gila yang suka tersenyum. Yang jelas ada rasa adem melihat siapa pun tersenyum, tak peduli dari orang gila sekalipun. Kemudian secara psikologis medis, ternyata senyum mampu membuat cerah wajah si tukang senyum. Ia memang gila, artinya tidak sehat secara jiwa. Tapi lihatlah…..ada gambaran kedamaian di parasnya….

Ketulusan senyum orang gila yang suka tersenyum (karena ada juga orang gila yang senantiasa murung), memiliki derajat mutu ketulusan dan keikhlasan yang tinggi. Senyum saya, apalagi senyum pejabat atau senyum para politisi jelas tak layak jadi pembandingnya. Saban hari, memang kita selalu disuguhi wajah-wajah senyum. Di jalanan, di kantor, di televisi. Senyum artis yang sedang dilanda gosip, senyum koruptor yang mengenakan seragam dari KPK, senyum pejabat saat bertemu masyarakat. Singkatnya, senyum selalu menemui kita setiap hari.

Pertanyaannya, jika secara kuantitas saja para pesohor itu kalah dari orang gila, seberapa tinggi mutu senyum mereka yang ditebar. Tak usah jauh-jauh, senyum saya sendiri saja pasti lebih banyak senyum yang terpaksa. Terpaksa sok sabar, sok baik dan sok ramah.

Situasi sok ini pada tingkatan tertentu ternyata membuat kita merasa sangat penat. Garis mulut dan bibir ditarik semenarik mungkin, namun ruh yang mengendalikan rasa, entahlah menerawang kemana.

Budayawan Prie GS pernah ngobrol dengan saya, hakekatnya senyum itu nyaris lahir dari ruang hampa. Jadi senyum kuantitatif inipun cepat sekali menghilang dari wajah si tukang senyum. Sama halnya dengan hukum keseimbangan, senyum yang cepat datangnya, akan cepat pula perginya tanpa meninggalkan jejak apa-apa. Bahkan sekedar rasa damai pun tak.

Mari kita lihat dengan senyum orang gila yang seperti menetap selalu dibibirnya. Senyum itu seakan berrumah disana. Enggan pergi. Saat membuka hari, mata melototi TV atau portal berita, bukan senyum yang didapat. Masih ada bonus kening mengernyit. Saat kita lihat ada pesohor berdandan sholeh atau sholehah dengan peci, baju koko, kerudung, hanya karena mau maju pemilihan bupati. Tapi ketika kalah, eh kembali lagi berdandan seronok. Nah melihat yang beginian saja, marah.

Kembali ke wajah para tukang senyum di TV, ternyata bukan hanya kalah jumlah dari senyum si gila, namun juga kalah kualitas. Tak ada kemurnian senyuman disana. Senyuman yang ikhlas hanya datang kadang-kadang saja. Tergantung apakah hari sedang cerah.

Problematika hidup itu memang seperti grafik monitor detak jantung. Naik dan turun, karena jika mendatar, dipastikan jantung sudah berhenti berdetak. Karenanya, tak ada yang buruk ketika kita mulai belajar dari orang gila yang suka senyum itu.

Yuk senyum !!!!

Edhie prayitno ige
(cerpenis, novelis, guyonis, tinggal di tanjungsari semarang)

Lewat ke baris perkakas