A password will be e-mailed to you.

Setya Novanto sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus E-KTP. Ia tetap kaya raya. Saya yakin kekayaannya juga didapat bukan dari keuntungan pengadaan E-KTP itu. Karena para koruptor besar di Indonesia, justru orang-orang kaya. Tapi siapa yang mengenal mbah Kayat? Padahal ia adalah inspirator lahirnya E-KTP.

Mbah Kayat saat ini berusia sekitar 83 tahun. Ia tinggal di sebuah kampung pojokan kota Semarang. Rumahnya dari papan yang di cat warna hijau tua, dan lantai rumahnya sebagian berupa tanah, sebagian lagi sudah diperkeras dengan campuran semen dan pasir.

Melihat pendapatannya dari berkebun memanfaatkan tanah-tanah kosong yang terlantar, ia layak masuk sebagai warga miskin. Artinya ia berhak mendapatkan jatah beras murah (pemerintah menyebutnya beras miskin), ia layak mendapatkan subsidi dari negara (jaman dulu pemerintah menyebutnya BLT), dan seabrek fasilitas lain sebagai warga miskin.

Namun, nyatanya mbah Kayat tidak mendapatkan apapun dari iru semua. Tetangganya usul ke Kelurahan Pedurungan Tengah, ternyata usulan itu tak bisa diterima. Dan mbah Kayat tetap seperti biasa.

Kisah carut marut kependudukan itulah yang mendorong warga Tanjungsari Kelurahan Pedurungan Tengah Semarang merombak sistem kependudukan dan berharap akan dicontoh Indonesia. Maka dibuatlah E-KTP yang pertama di Indonesia atas inisiatif warga dengan kemampuan warga seadanya.

Tentang hal ini, bisa disimak di tautan ini. Penggunaan E-KTP versi warga, salah satunya bisa disimak disini. Dari dua tautan itu, terlihat bahwa roh pembuatan E-KTP adalah mempermudah. Dan itu terjadi sekian tahun sebelum Indonesia memulai.

Langsung melompat saja ya. Nah ketika Indonesia benar-benar mengadopsi ide ndeso itu, ternyata di tangan orang-orang pintar berpendidikan tinggi dan kaya raya, pembuatan E-KTP itu bisa berubah. Maka muncullah gelombang demi gelombang tersangka.

Baiklah, biarlah KPK bekerja profesional, dan Setya Novanto juga berusaha berkelit semampunya. Tapi dari peristiwa ini saya melihat bahwa pintar itu penting, tapi jujur itu mendesak.

Banyak proyek-proyek besar mercusuar yang ternyata menjadi ancaman kebrangkytan negara karena ada ketidakjujuran disana. Proyek-proyek semacam Wisma Atlet Hambalang, E-KTP, dan masih banyak lagi kasus raksasa, terancam mangkrak karena ketidakjujurannya. Dan itu berpotensi membrangkutkan Indonesia.

Proyek-proyek yang menjadi pusaran korupsi ini bukan untuk memperkaya koruptornya, namun karena ada pemborosan dalam operasionalnya. Yang berada di tingkat teknis di bawah, cukup bermain recehan, meminta setoran kepada siapapun yang hendak mengurus atau membuat E-KTP. Seratus dua ratus ribu pungli oknum kecamatan, sungguh tak sebanding dengan besarnya angka yang dipatok dalam pengadaan.

Apakah para pelaku proyek dan para koruptor itu memiliki perut dan lambung yang sangat besar, sehingga harus diisi beton, semen, dan apapun? O tidak. Antara Setya Novanto dan mbah Kayat tentu bentuk perut dan kebutuhannya sama.

Yang membedakan adalah keinginan. Keinginan itulah induk keborosan. Mbah Kayat makan nasi sayur dari warteg merasa cukup. Tapi Setya Novanto meski bisa memilih makanan apa saja, merasa perlu menjaga keberlangsungan otoritasnya. Maka ia merasa perlu menjamu kolega, menraktir pemilih, membeayai oraganisasi partainya dan seterusnya.

Padahal, tidak ada satupun jenis kekayaan yang bisa melayani keborosan, apalagi jika dasarnya tidak benar-benar kaya, tapi boros! Maka keborosan itu bisa dilayani dengan satu cara: bohong. Bohong adalah induk korupsi. Jika terlalu sering dilakukan, maka pelaku tak lagi bisa membedakan antara kebenaran dan “kebenaran” versinya.

Nah, dalam kasus E-KTP ini, kebohongan terbesar bukan pada pernyataan “Saya tak terima apapun. Saya tak terlibat.” Justru kebohongan terbesar adalah dalam setiap proses proyek-proyek itu selalu dilakukan tidak terang-terangan dan ada informasi yang disembunyikan.

“Saya sungguh tidak tahu tentang uang itu.” Pernyataan ini hanyalah denial saja. Namun posisi informasi dalam hidup seseorang di masa sekarang ini, sangatlah mendasar. Banyaknya LSM, NGO, jurnalis investigatif, dan kaum partikelir yang mencoba mencari tahu adanya informasi yang disembunyikan hanyalah penegasan bahwa ada yang merasa disepelekan dengan penyembunyian informasi itu.

Trus posisi Indonesia seperti apa? Dimana-mana selalu ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya dulub saja ya. Kita mesti berbangga, sudah berapa ratus koruptor ditangkap, diadili, dihukum, bahkan ada yang dimiskinkan, tapi negara ini tidak juga bangkrut. Indonesia masih berdiri hingga sekarang. para pemimpinnya masih gemar berteriak “Merdeka!” sambil mengacungkan kepalan tangan ke atas.

Kabar buruknya, ada kekhawatiran dan ketakutan pada kita akan keberlangsungan negeri ini dan nasib di masa depan jika setiap kegiatan bernegara hanya melahirkan koruptor. Koruptor itu seperti kematian tak sudah-sudah. Jadi, semakin maju jaman, semakin pintar manusianya, ternyata semakin berbahaya, jika tak ada kejujuran disana.

Tapi yakinlah, masih banyak sosok Mbah Kayat di sekitar kita meski tak sedikit pula sosok Setya Novanto.

 

edhie prayitno ige

penulis, tetangganya pak prapto dan mbah kayat

warga tanjungsari semarang

Lewat ke baris perkakas