A password will be e-mailed to you.

Sebelum hidup jadi semeriah dan serumit ini, nun ribuan tahun silam, Nabi Adam & ibu Hawa pernah dilamun gebalau luarbiasa yang belum lagi terbahasakan saat mereka diturunkan dari Surga. Keduanya diliputi keterpesonaan, kekaguman yang asing, ketakutan teramat sangat, dan juga rasa bersalah yang meruyak–saat mendarat di bumi.

Di dalam diri masing-masing, mereka membawa segala potensi misterius kehidupan manusia yang kini kita lakoni. Dari mereka berdualah anak manusia beranak pinak. Bersuku-bangsa. Serbaneka riwayatnya.

Adam yang pemula bangsa manusia itu, pelahan menitiskan benih kehidupan selanjutnya ke rahim Hawa. Lahirlah Syith (Set) yang kelak menggantikan ayahnya sebagai nabi. Bersamanya, hadir secara silang dua puluh pasang anak Adam. Lelaki-perempuan.

Persoalan muncul kemudian. Mereka tak mungkin saling menikahi sesama saudara kandung. Lantas bagaimana jalan keluarnya? Tuhan pun menurunkan Nazala, seorang bidadari Surga agar bisa dinikahi oleh Syith. Pasangan inilah yang kelak menjadi nenek moyang murni umat manusia.

Sampai di sini, kita bisa menarik kesimpulan; manusia adalah makhluk Surga yang tinggal di bumi. Kerana dibentuk dari empat anasir yang ada di sini: angin, air, api, dan tanah.

Tak syak bila kita memiliki kemampuan mengolah keempatnya dalam hidup keseharian. Bahkan ada segolongan dari kita yang bisa tinggal di atas air, juga di dalam tanah. Sebagian yang lain mensakralkan api, serta ada yang malah sanggup mengendalikan udara.

Jadilah kita avatara.

Keluarga Sepanjang Masa

Dalam salah sebuah redaksi Hadits Rasulullah Muhammad Saw, yang diriwayatkan Anas radiyallahu’anhu, ada yang bernada begini, “Al-Kholqu kulluhum ‘iyaalullah wa ahabbuhum ilaihi anfa’uhum li’iyaalihi: Semua makhluk adalah keluarga Allah (‘iyalullah–kerana telah dipenuhi kebutuhannya). Jadi, makhluk yang paling disayangi Allah adalah yang berbuat baik pada keluarga-Nya.” (HR. Baihaqi; Syu’aib; Misykat).

Rantai darah kita yang sudah sedemikian berjalin kelindan dalam mitokondria, genotipe, fenotipe, dan DNA, sejatinya mudah dicarikan benang merahnya. Pada lingkaran terdekat, kita tergerak saling menjaga, melindungi, mengasihi, menyayangi, mencintai.

Benih kebajikan semacam itu tertanam dalam diri setiap manusia. Masalah baru akan muncul bila lingkarannya terus melebar. Sebab sebagian besar manusia mulai kesulitan menemukan kediriannya dalam diri yang liyan. Padahal darah kita sama merah. Tulang sama putih.

Manusia berkulit sawo, terkagum-kagum melihat mereka yang warna kulitnya putih. Mereka yang kulitnya hitam legam, mungkin terjangkit penasaran melihat bangsa kuning langsat. Padahal warna kulit dalam ras manusia, jelas dipengaruhi tempat ia menetap.

Tanah yang ia pijak, air yang diminumnya, api yang dipakai, dan udara yang dihirup, adalah faktor pemicu perbedaan bentuk fisik, alam pikiran, cakrawala pemahaman, dan kedalaman spiritual.

Mereka yang mukim di bagian barat bumi, sanggup mengolah rasionalitasnya secara prima. Sementara yang di timur, bergaul rapat dengan mistisisme. Spiritualitas dalam bahasa kita hari ini.

Manusia di barat sangat ketat berpikir. Sedang manusia timur gemar mengukir hidupnya secara fraktal. Jika mereka yang di barat menjadikan a² + b² = c², maka yang di timur menganggap dunia adalah mozaik tak hingga yang mengagumkan. Kita belum lagi membahas mereka yang tinggal di kutub utara dan selatan bumi.

Pola seperti ini juga berlaku dalam hal beragama, berbudaya, dan cara kita membangun peradaban. Agama yang menjadi cara tuhan mendekatkan Diri-Nya dengan manusia, juga mengalami hukum degradasi. Sebab tuhan yang tak tepermanai itu, akan dipahami secara beragam dalam setiap adab manusia sepanjang zaman. Sebagaimana cara mereka mengenali diri dan hidupnya.

Hukum alam inilah yang mau tidak mau harus kita terima. Kian jauh jarak tempuh sebuah agama, bertambah pula kesulitan memahaminya. Sama persis dengan selisih ruang-waktu antara kita dengan Adam. Bahkan kecerdasan kita yang terus tumbuh melesat, tetap tak mampu memecahkan rahasia yang telah dikandung Bapak manusia itu sejak mula ia diciptakan.

Keluarga agung manusia yang berserikat dengan alam dan tuhan, adalah teka-teki besar  semesta raya. Bakat berbahagia manusia, adalah penuntun utamanya memahami konsep kebaikan, welas asih, tenggang rasa, dan kesetaraan. Kita sama tak ingin mengalami perlakuan dzalim, sama menolak tindak kejahatan, perbuatan tak bermoral, apalagi biadab.

Tapi pelajaran hidup nampak sebaliknya. Selalu saja ada manusia yang tindak-tanduknya sulit dimengerti. Membabi buta dan seenaknya saja. Ia lupa, dunia tercipta tak hanya untuknya seorang. Kita pun lupa, bahwa manusia sejenis itu juga makhluk yang sama dengan kita. Sama lemah dan tak berdaya–di hadapan keagungan penciptaan.

Bagi segelintir manusia yang telah sanggup mengenal kebaikan, tak ada salahnya mengajak mereka yang getol menjahati dirinya sendiri, kembali pada fitrah kehidupan.

Kita semua sama merindukan masa di mana Adam-Hawa hadir di lingkungan surgawi. Tanah dan air adalah tubuh kita. Api menjadi nafsu duniawi kita. Udara, sebagai pemantik dan penentu hidup-mati kita.

Sampai kapan pun, dan di mana pun, tak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari keterkungkungannya pada alam ciptaan. Kita saling bergantung pada yang lain. Termasuk pada Dzat yang merupakan asal muasal kejadian.

Kendati ditepis dan tak diakui, nyaris tak ada manusia yang sungguh benar bisa berpisah dengan, Dia. Sumber segalanya. Pemula tanpa awalan. Pengakhir tanpa akhiran. Kita adalah Dia. Namun Dia bukan kita. []

Depok, 13 Juli 1438 H

Ren Muhammad, adalah pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain terus membidani kelahiran buku-buku, Pemimpin Redaksi Majalah ARKA. juga bertugas sebagai Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno.

Lewat ke baris perkakas