A password will be e-mailed to you.
Gusti Allah ternyata bisa jengkel juga. Namun, sejengkel-jengkelnya Gusti Allah ternyata tidak sedahsyat makian manusia.  Misalnya pada Abu Lahab, dalam surat al-Lahab, Gusti Allah menunjukkan kejengkelannya. Namun Dia memilih diksi celaka, bukan terkutuk.
Tentu saja hal itu bukan karena Gusti Allah sedang menjaga citra sebagai Maha Pengasih dan Penyayang. Jelas beda dengan aktivis ormas yang merasa menjadi Panitia Seleksi Calon Penghuni Surga, baik yang sudah dibubarkan maupun yang belum.
Apalagi dengan saya yang menganggap misuh sebagai salah satu etalase mencapai orgasme kejengkelan.
Mari kita serius ke Indonesia. Negeri yang tak pernah bangkrut meski dikuasai para koruptor. Serunya, para koruptor ini masih dibela banyak pihak. Mulai pengurus dan anggota partai yang paling berjasa mengatur negeri dan menyejahterakan warganya, hingga kaum kere yang pernah mendapatkan sepuluh dua puluh ribu rupiah ketika menjelang pemilu.
Jika Abu Lahab oleh Gusti Allah saja hanya diberi sebutan “celaka” dan bukan “terkutuk”, saya akan memposisikan diri sebagai manusia tempat salah dan khilaf. Jadi boleh misuh2 sepuasnya. Misuh seceleng-celengnya celeng yang lebih celeng dari celeng.
Apa sebutan tepat untuk koruptor ini? Yang ampuh dan baik hati seperti koruptor e-KTP?
Saya sengaja membatasi koruptor yang memang sudah kaya sejak sebelum mereka korupsi. Yang jumlah kekayaannya tak berkurang meski ia mati. Saya tak hendak menjuluki koruptor kelas operasi zebra atau kelas tukang parkir yang menaikkan tarif. Karena saya bukan “Panitia Seleksi Calon Penghuni Surga”. Golkar memang tak berjenggot seperti kaum yang gemar mengkafirkan orang diluar kaumnya. Tapi ketika Setya Novanto menjadi tersangka, tentu semua kebakaran jenggot dan merasa harus membela sang boss.
Bahkan kolega di DPR RI semacam Fahri Hamzah juga layak menjadi panglima pembela hak hukumnya. Ingat, kita di Indonesia bray!. Negeri yang menjunjung tinggi hukum. Negeri yang menghormati hukum. Jadi meskipun kelakuannya lebih celeng dari celeng yang paling celeng sekalipun, ia tetap memiliki hak dibela. Menjadi tersangka korupsi adalah hak segala pejabat dan penyelenggara negara. Lebih penting dari itu, hormatilah hukum.
Segala macam pejabat dan penyelenggara negara itu mau ngapusi, prengas prenges bahkan mlehoy sekalipun ya gak papa. Yang penting berlandaskan hukum. Dipaksa-paksa sesuai hukum ya boleh. Yang penting ciri negara hukum harus dijaga maqomnya.
Menghormati hukum sangat subyektif. Meskipun berbeda-beda kasus, berbeda-beda hukuman, namun muaranya satu, boleh ngomel sepuasnya di medsos dan mengaku korban konspirasi global ala Aming dalam serial Dunia Terbalik, namun satu juga, tetap koruptor. Bhineka Tunggal Ika.
Cobalah sesekali menghalangi hak hukum koruptor, umpamanya mengancam bunuh diri jika negara tetap memberi remisi bagi koruptor, insya Allah sampeyan akan dibully sebagai tidak menjunjung tinggi hukum. Barisan pengacara baik yang hapal maupun gak hapal KUHP akan berusaha dengan berbagai cara, membungkam.
Ingat kelas mereka adalah nongkrong di Cafe, bukan di kucingan. Tentu saja mereka akan ekspresif ketika menuding anti ham dari tempat-tempat hebat itu.
Kita nikmati saja Setya Novanto menunjukkan ekspresi tenang namun saya yakin deg degan. Atau jika jadi, biar saja ia menggugat pra peradilan kepada KPK.
Prinsipnya satu, jangan mengusik hak hukum para koruptor. Tak perlu berteriak-teriak bahwa negeri ini menjadi tertinggal akibat ulah para koruptor. Jalan, jembatan nggak karuan meski kita rajin bayar pajak karena yang korups juga rajin. Jangan terlalu merasa kalau terlalu lama menjomblo karena tak berani nikah dalam keadaan belum kerja dan ekonomi pas-pasan akibat hak-haknya dikorupsi.
Boleh saja sebagai warga negara yang peduli pada negaranya dengan jengkel sejengkel-jengkelnya. Apalagi jika melihat para koruptor itu berjubah iman dan berpeci moral memberi khotbah pentingnya hidup dalam Islam guna mencapai maqom ikhsan namun ujungnya brengsek.
Namun, apakah mengutuk dengan kosa kata celeng yang seceleng-celengnya bahkan lebih celeng dari yang paling celeng sekalipun  itu akan mengubah keadaan? Nggak janji deh.
)* Edhie Prayitno Ige
Penulis, Cerpenis, Novelis, tetangganya pak Prapto
Lewat ke baris perkakas