A password will be e-mailed to you.

Suatu hari, hujan deras di kampungku, Tanjungsari Semarang. Mendadak terlihat Pedro, anaknya mas Titus yang lari-lari main hujan hanya mengenakan cawet saja. Sementara di kejauhan Diah, anak kedua Mas Sholeh mengintip dari jendela kaca di rumahnya yang berdampingan.

Porno? Hihihi. Mungkin itu pikiran kaum hipokrit. Yang jelas Mas Titus dan mbak Maria malah ribut, bukan ngributin karena Pedro hanya cawetan saja, namun ribut karena takut pedro masuk angin. Sedangkan mbak Sri, ibunya Diah juga ribut, namun yang diributkan karena Diah terlalu dekat dengan teras yang air hujannya tempias kesana kemari.

Pada saat yang bersamaan, polisi Indonesia yang hebat itu juga sedang disibukkan dengan moral warganya. Pagi ini tersiar kabar, Polda Jateng melarang digelarnya diskusi sastra erotik karya Enny Arrow. Dimana dalam diskusi itu rencananya akan tampil pula pertunjukan “Tante Mirna”.

Sesungguhnya, diskusi sastra itu hanyalah kegelisahan sekelompok anak-anak muda yang mencoba mengenal katalisator berahi yang pernah terjadi pada senior-seniornya. Keingintahuan anak-anak muda inilahbyang spontan memancing reaksi para polisi menjalankan kewajibannya. MENEGAKKAN HUKUM !!

Bagi yang belum paham, Enny Arrow adalah nama samaran seorang penulis. Konon berdasar riset Hari Gib, pria yang pernah menghabiskan masa studinya di Universitas Brawijaya Malang, sebagaimana dilansir Liputan6.com, novel-novel karya Enny Arrow setara dengan VCD atau situs-situs porno internet di zaman sekarang. Jadi Enny Arrow adalah gerbang bagi remaja mengenal yang namanya pornografi pada masa itu.

Lalu, Siapa Enny Arrow?

Menurut Hari Gib, Enny Arrow adalah seorang perempuan bernama Eni Sukaisih. Lahir di Hambalang, Bogor, pada 1942 dan wafat pada 1995. Karier kepenulisannya diawali sebagai seorang jurnalis, yang kemudian beralih profesi sebagai script writer saat pindah ke Amerika. Jangan salah, ia adalah jurnalis ketika Indonesia baru saja merdeka!.

Isinya novelnya memang sangat vulgar. Bercerita tentang sepasang manusia sedang bercinta. Lengkap dengan deskripsi yang rinci dan hiperbola. Enny tak segan menulis kelamin laki-laki dan perempuan yang diadu, digesek-gesek, payudara yang diremas, cowok-cewek yang mendesah. Pokoknya persis seperti situs-situs cerita porno saat ini deh.

Baik mari kita kembali ke laptop thema obrolan tentang moral publik. Dulu pak pak menteri Rahmad Gobel pernah melarang penjualan bir secara terbuka. Alasannya, bir adalah keturunan biologis minuman beralkohol. Jadi dalam DNA bir, mengalir atribut minuman keras. Sementara di sisi lain, bahkan jauh sebelum Indonesia ada, setiap daerah memiliki minuman tradisional. Usia resep-resep minuman itu jauh lebih tua ratusan tahun dibanding usia Indonesia saat diangankan. Nah kan?

Manusia Indonesia kini terobsesi dengan kesehatan, setelah kampanye joss dari pemerintah. Mereka kemudian menghindari makanan ini itu. Santan yang katanya kolesterol tinggi, emping melinjo yang katanya pemicu asam urat. Banyak deh pokonya makanan daerah yang dihindari, sambil diam-diam beternak penyakit melalui produk transgenik.

Demikian pula dengan rokok. Perokok saat ini diperlakukan seperti seorang kriminal dan rokoknya dianggap sumber kemiskinan dan kematian. Tapi diam-diam negara mengeruk cukainya dan beberapa prosen malah buat bancakan para pejabat.

Sebuah poster undangan diskusi yang akhirnya dibatalkan Polda Jateng. (foto : dok.Dekase)

Oke, Mari kita anggap bahwa diskusi sastra erotika Enny Arrow itu melanggar susila. Diskusi itu akan memicu anak-anak muda untuk memanjakan syahwatnya, dengan onani, masturbasi, atau malah ke pelacuran. Mengapa? Karena untuk berdiskusi harus membaca.

Tentu saja last but not least versi pak polisi, akan bermuara pada tindak kejahatan susila menjadi pelaku pidana perkosaan menjadi hobi memperkosa. Kemudian setelah diskusi dilarang ternyatabpak polisi masih berbaik hati dengan membiarkan adanya situs-situs porno yang malah bukan lagi memperkaya imajinasi, namun memberi keteladanan. Sebut saja http://filmsex.club dan masih banyak lagi. Soal ini Google lebih jago dalam mengoleksi alamat situs.

Sebenarnya berapa banyak sih anak muda yang penasaran dengan estetika anatomi tubuh mereka sendiri? Berapa banyak polisi laki-laki yang demen ke pelacuran? Berapa banyak nyonya-nyonya sosialita yang diam-diam juga ngeseks secara virtual melalui chat, video call, atau sekedar telpon untuk bareng-bareng berimanjinasi dan menggapai orgasme.

Berapa pula anak muda di Indonesia yang mati karena bir. Tentu bukan karena bir yang dicampur obat nyamuk oles semacam autan, balsem, atau rendaman janin kijang. Minuman keras yang berasal dari spesies oplosan.

Yang namanya oplosan, sirup Kawista Sirup Tjampolay asal Cirebon jika dicampur asam sianida atau arsenikum tentu juga bikin modar.

Menertibkan moral warga negara memang menggoda, dan sering dijadikan obat dari segala obat untuk zaman yang semakin jahilliyah ini. Coba simak, orang putus cinta dan minum-minum sampai  mati—di mana akar masalahnya? Ya di putus cintanya itu lah. Toh ada juga yang bunuh diri dengan siaran langsung di Facebook, ternyata penjualan tali tambang, rafia, sarung, atau lainnya yang berpotensi menjadi alat gantung diri juga tak dilarang.

Jika ada cewek diperkosa, selalu yang disalahkan sastra erotik sekelas Enny Arrow. Bahkan ceweknya yang sudah jadi korban juga disalahkan—selalu dikisahkan berpakaian minim dan “mengundang”.

Begini, di Swedia, situs porno nggak dilarang dan pakaian ketat di mana-mana tapi minim perkosaan. Ada lagi lho, ketika kekerasan atas nama agama meningkat, yang disalahin adanya literasi dari situs-situs radikal. Tapi bukan para pelakunya.

Jadi apa kesimpulan dari pelarangan diskusi sastra erotika Enny Arrow dengan spesial perform Tante Mirna? Ya nggak ada. Wong tulisan ini juga cuma iseng karena keinginan makan tengkleng batal, takut darah tinggi. []

Edhie Prayitno Ige

Penyair, Cerpenis, Novelis, tetangganya Pak Prapto

Lewat ke baris perkakas