A password will be e-mailed to you.

Indonesia punya ribuan kosakata umpatan khas daerah masing-masing. Masing-masing makian kadang tak bermakna, khususnya di daerah lain. Kebanyakan umpatan tersebut dicatut dari nama-nama binatang.

Tapi hati-hati. Lha binatang itu kadang lebih semlohai sikapnya dibanding manusia je. Maklumi dan anggap saja si pemaki ingin menyamakan lawan bicaranya dengan kelakuan binatang yang menjadi sabdanya. Sebut saja asu, celeng, kadal, ular, bajing(an), jangkrik, otak kerbau, otak udang, akal bulus, tikus kantor, kelas teri, kelas kakap, lintah darat, sapi perah, kupu-kupu malam, ayam kampus, jago kandang, aksi kucing, kucing garong, kucing kepala hitam, serigala berbulu domba, dan sebagainya.

Nah, untuk Semarang ternyata punya pisuhan atau makian yang tidak menjajah integritas dan otoritas binatang. Yang cukup ngetop adalah Kakekane. Dalam menyuarakan “kakekane” ini, memang ada beberapa tajwid, menyesuaikan kebutuhan. Karena makian ini bisa berarti simbol keakraban.

Kakekane atau juga ditulis kakeane bisa diartikan sebagai mbahmu. Bisa juga diartikan dengan sangat kasar. Semua ada tajwidnya yang harus dibarengi dengan ekspresi dan tarikan garis mulut yang pas. Komposisi tarikan garis mulut, volume dan notasi suara, jelas sangat berbeda maknanya.

Pengambilan kosakata kakekane ini bersifat arbitrer, walaupun dalam kasus tertentu masih mengacu pada alasan tertentu. Misalnya kakeane yang lebih mendekati ungkapan perasaan yang kesal, sedangkan asu menyandingkan lawan bicara dengan rendahnya martabat anjing. Saya jadi ingat kisah anjingnya Puntodewa yang ditolak masuk surga, ternyata sulung Pandawa itu membela martabat si asu.. Benarkah asu martabatnya rendah?

“Kakeane” yang sehari-hari terdengar di Semarang memperkuat kesan kasar di mata orang non-Semarang. Kasar dan tidak sopan!  Weit…tunggu dulu, akar kata “kakek” menunjukkan adanya titik romantisme antara dua insan manusia yang bisa saling bersetubuh menghasilkan generasi berikutnya. Romantisme simbah/kakek ini kan sebuah pertanggunggjawaban manusia kepada Penciptanya. Tidak kenthu manusia punah!

Tapi bisa saja kakekane itu menjadi semacam hinaan yang setara dengan “Ndut” atau “Jelek” yang dianggap sebagai panggilan sayang anak-anak kekinian. Kakekane adalah sebuah ekspresi yang menjadi bukti keakraban antar orang Semarang.

Nah khasanah kakekane ini seringkali muncul dalam dunia perdagangan di Pasar Maling sebelum terbakar, dan sekarang pindah entah kemana. Begini kisahnya.

Pasar ini juga dianggap sebagai tempat jual beli barang-barang hasil curian. Barang apapun yang kita cari pasti akan bisa kita dapatkan di pasar ini asal kita menyebutkannya pada penjualnya.

Bossku, aku golek spion Innova. Duwe ra?” tanya saya suatu ketika.

Wah lagi kosong, tapi sik tak golekke,” kata Bossku yang bakul itu.

Optimisme si penjual yang mengaku tidak sedia tapi tetap bersedia mencarikan membuat pembelinya tidak khawatir. Apalagi hanya dalam hitungan menit orang yang ditelponnya sudah datang dan mengantarkan pesanan kita. Selanjutnya kita cukup bayar dan bisa kembali ke parkiran.

Lho aku tuku spion innova, kok malah spionmu ilang ndes?” kataku kepada kawan yang mengantarkan.

Dan ketika diteliti, memang spion yang dibeli ternyata spion mobil kawan yang hilang tadi.

Asu. Kakekane!

Hanya seruan itu yang keluar tanpa bisa ngapa-ngapain karena ketika dicari si penjual sudah menghilang.

Nah, kalau sudah begini, silakan memaki dengan tarikan garis mulut melengkung ke bawah, dengan mata menyala, dan volume suara keras serta nada yang tinggi melengking.

Bedakan dengan bertemu kawan lama yang sudah puluhan tahun tak sua. Sampeyan tetap boleh misuh dan teriak “kakekane!”. Tentu saja dengan tarikan garis mulut membuka lebar, tatap mata yang bersahabat diikuti gesture merangkul atau memeluk si kawan tadi.

Jika warga Semarang bisa bangga dengan atribut kesemarangannya, maka jangan heran kalau para pendatang dipaksa bersemarangan dan dilatih untuk fasih mengucapkan “Kakekane” sesuai Tajwid Semarangan. Mahroj juga harus tepat agar tak menimbulkan salah paham dan fitnah.

Jadi siapapun yang berupaya mencari tahu asal usul diksi kakekane akan berteriak “Kakekane!!”, karena tak akan menemukannya.

 

Edhie Prayitno Ige

Penulis, Cerpenis, tetangganya pak Prapto

Lewat ke baris perkakas