A password will be e-mailed to you.

Di tengah packing persiapan pulang dari rumah sakit, tiba-tiba gawai saya berbunyi. Saya tak membuka sampai pulang ke rumah dengan selamat, sekaligus menghubungi dulur-dulur buat utang, sebagai bagian tombok dari BPJS.

Ternyata berisiknya gawai tadi mengabarkan bahwa Pamela Safitri, pedangdut dari Duo Serigala bergoyang lagi. Kali ini bareng dengan seorang DJ, Dinar Candy. Goyang mereka direkam dan diunggah ke akun instagramnya. Penasaran, akhirnya saya follow. Apalagi Liputan6.com menurunkan laporan dengan judul memprovokasi jiwa laki-laki saya, pake istilah “goyang erotis” segala.

Setelah follow dan melihat videonya, ketawa saya langsung meledak. Bagaimanapun sebagai orang Muntilan, saya sudah menjalani training nonton dangdut sejak kecil. Bukan lagi sekedar nonton di baris terdepan sambil berjoged, namun malah di bawah panggung dan kalau lagi rejeki, bisa melihat celana dalam sang biduan.

Ihwal goyang Pamela Safitri, sangat tidak menggoda. Lucu iya. Ngaceng? Nggak blas.

Tapi pengalaman itu ternyata hanya untuk membawa saya pada sebuah fakta, bahwa dangdut sudah sedemikian mengakar di masyarakat kecil seperti saya. Kaum kere seperti saya ini ternyata hiburannya sepele, ikut gedheg-gedheg dengar suara Via Vallen yang menyanyikan “kelangan” yang kini makin membumi dilagukan di musholla-musholla, sebagai puji-pujian usai adzan menunggu datangnya para jamaah. Tentu saja lirik lagunya sudah diubah menjadi dakwah.

Capture video yang dinilai erotis di akun instagram. (foto : Liputan6.com)

Kembali ke goyang Pamela Safitri, caption video yang diunggah DJ Dinar Candy juga mencoba menggiring imajinasi saya. “Lhemesin aja beibh @pamelaaasafitriduoserigala”. Tapi imajinasi saya malah menghadirkan rasa iba.

Pamela Safitri dan DJ Dinar Candy memang bergoyang dengan pakaian yang uhuy. Kutangnya mengintip, isinya berguncang. Namun kok tak mengundang syahwat ya?

Melihat ekspresinya, saya ngakak nggak habis-habis. Bodynya juga nggak seksi-seksi amat. Kecuali ukuran dadanya yang memang besar itu, selebihnya biasa-biasa saja. Melihat goyangnya,  sebagai laki-laki, saya baru menyaksikan goyang model ini. Sangat heboh dan cuek. Cuek apakah itu cocok dengan irama lagunya atau nggak. Cuek musiknya jalan kemana, goyangnya kemana, isi dadanya beda lagi arahnya. Tapi sumpah, lucu.

Nah goyang inilah yang dihebohkan warganet. Sebelumnya Pamela Safitri diprotes karena goyangnya dinilai kelewatan saat tampil di depan Kedaton Kesultanan, Dodoku Ali, Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Utara.

Dalam video itu, goyang keduanya berpusat di bagian dada. DJ Dinar Candy yang berponi rata mengenakan celana pendek yang kancingnya dibuka serta atasan abu-abu lengan panjang yang digulung hingga ke atas dada. Kutangnya warna merah kelihatan. Lagi-lagi nggak bikin nafsu, namun malah mengingatkan Yu Jum warga Sabrang Muntilang yang di masa kecil sering mencuci pakaian di Kali Blongkeng. Sedangkan Pamela memakai celana panjang hitam dan atasan crop top yang memperlihatkan belahan dadanya.

Tanggapannya?

“Aduh perempuan macam apa tu menjual aurat nya,” kata @aly_acul.

“Gk malu apa,malah dbuka2 gtu,” sahut @memelcucuiet.

Boleh saja semua berkomentar atas nama moral. Boleh saja menuding bahwa Pamela Safitri menimbulkan gerah sebagian warga masyarakat. Katanya,  ”Merusak moral.”

Soal ini saya jadi bertanya-tanya, dan mengancam saya berbuat dosa karena berburuk sangka. Sebab setahu saya moral bangsa ini memang sudah rusak, jauh sebelum Pamela Safitri dilahirkan. Semoga saya tak berburuk sangka dan menuduh bahwa perilaku munafik, merasa terhormat, merasa difitnah, pembelaan diri koruptor itu jauh lebih rusak sebelum Pamela Safitri bergoyang lucu.

 

Edhie Prayitno Ige

Penulis, Cerpenis, Guyonis, Tetangganya Pak Prapto

Lewat ke baris perkakas