A password will be e-mailed to you.

Maaf jika terpaksa aku memotretmu dari belakang, percayalah tak ada yang mengenalimu. (foto : edhie)

Penipu? Entahlah. Tapi siang ini ada dua emak-emak berkerudung dengan wajah ramah mengucap salam. Tangannya kelihatan repot membawa sebuah map warna pink, juga beberapa amplop kumal degan kop surat berlogo merah dan hijau. Repot, karena amplop itu tak dimasukkan dalam map.

“Assalamu alaikum. Mas sodakohe sak ikhlase mas,” suaranya lembut namun mampu mengalahkan suara kicauan love bird tetangga.

Tak segera kujawab. Aku tertegun. Wajahnya segar, jauh lebih segar dibanding istriku yang tengah sakit. Ada garis melengkung di bibirnya. Wajah yang tersenyum. Ah terima kasih sekali. Barangkali engkau menganggapku berkecukupan dan sedang tak ada masalah apapun. Terima kasih karena mungkin di matamu aku adalah sosok yang dermawan.

Kukabarkan padamu wahai ibu pembawa proposal, bahwa seluruh persangkaanmu itu belum kurasakan. Aku tidak merasa layak jadi dermawan, tak juga terbebas dari persoalan keuangan. Barangkali persoalanku lebih rumit daripada masalahmu. Tapi terima kasih kau sudah mempercayaiku untuk bersedekah.

“Mas, sak ikhlase mawon. Kagem mbangun masjid teng pondok. Niki surate,” si ibu itu menyodorkan mapnya untuk aku lihat.

Di proposal yang alakadarnya dengan warna kertas sudah kumal karena sering dilihat, ada sebuah alamat. Pamekasan, Madura. Wow, luar biasa.

Nah, benar dugaanku. Ternyata dua emak-emak itu memang penipu. Dari logatnya saja kelihatan kalau mereka nggak mudheng Bahasa Madura. Tapi it’s oke. Aku rapopo.

Wahai emak-emak pembawa proposal, jika aku memberimu selembar uang tersisa satu-satunya di dompet istriku, itu bukan karena aku dermawan. Namun terlebih karena istriku memang sedang ingin berbagi. Dan celakanya, ia hanya punya selembar itu.

Jika tadi aku dan istriku memberi itu bukan karena aku dermawan. Bukan pula karena posisimu sebagai peminta, dan aku sebagai yang terpinta. Aku nggak pernah membayangkan kalau aku berbuat baik, meski tahu sedang tertipu.

Aku hanya ingat pesan istriku yang keinginannya terancam gagal. Ia hanya ingin makan dengan lauk babat gongso. Tapi duit selembar satu-satunya itu diberikannya kepadamu. Pesannya sangat simple.

“Kasihkan aja mas. Kita tau kita tertipu, tapi anggap saja itu sebagai ongkos nonton aktingnya. Jangan merasa telah bersedekah. Diluar itu, kita perlu mawas diri, jangan-jangan wajah kita tergolong wajah memelas penuh dosa, sehingga orang lain ikhlas menipu agar dosa kita lebur. Mungkin lho, jangan GR,” pesan istriku.

Jadi dimanapun kau sekarang, wahai ibu pembawa proposal, tak perlu kau tahu, betapa listrik di rumahku sudah dua bulan nggak dibayar. Air artetis malah lebih parah, sudah enam bulan nggak dibayar. Untung bosnya air artetis itu tetangga yang mengerti keadaanku dan istriku.

Selebihnya, aku berterima kasih kepadamu emak-emak pembawa proposal, karena dengan kehadiranmu yang terang-terangan menipuku, membuatku tak mau menipu diriku dengan berpura-pura bersedekah. Berpura-pura dermawan.

“Bu, niki kula mboten sodakoh. Jarene nyonyah duit niki kagem njenengan kagem ongkos acting. Dados mboten sah tanda tangan pemberi sumbangan,” pesanku ketika mengangsurkan satu-satunya duit itu.

Ingat kan pesan itu? []

 

edhie prayitno ige

penulis, cerpenis, guyonis, tetangganya pak prapto

Lewat ke baris perkakas