A password will be e-mailed to you.

Memejamkan mata, bercerita membayangkan aksi begal garam (foto: showbiz.liputan6.com)

Pamela Safitri. Entahlah sampai sekarang saya masih mencari daya tarik gadis kelahiran 1993 ini. Masih belia untuk sebuah kesuksesan popularitas. Kecuali dadanya yang sak hohah itu, saya belum menemukan daya tarik lainnya.

Tapi upaya pencarian itu berhenti ketika sebuah Nissan X-Trail berhenti di lapangan badminton depan rumah. Saya memang sedang janjian dengan Pamela Safitri untuk sebuah wawancara khusus. Pamela bersedia. Bahkan tempat wawancara di teras rumah yang saya jadikan ruang tamu terbuka. Jadi saya tak perlu jalan. Saya akan menemukan kecerdasan dan kekritisan Pamela. Itu ekspektasi saya.

Tentu Pamela Safitri mangajukan sejumlah syarat. Pertama tak ada sesi foto-foto di rumah saya. Alasannya sederhana, agar tak menarik perhatian. Kedua, tetangga tak boleh tahu kalau yang datang adalah artis.

“Tapi saya nggak mau wawancara kalau ngomongin ukuran dada atau goyang-goyang lho. Saya juga nggak mau kalau wawancara seputar puting yang mengintip dan sejenisnya,” kata Pamela.

“Lha trus soal apa jeng?” tanya saya.

Pamela Safitri menikmati keindahan alam Ternate. (foto : detikhot)

“Tentang garam aja. Saya tahu kok kenapa garam tiba-tiba harganya mahal. Eh, saya minumnya air putih saja. Biar nggak repot,” kata Pamela.

Setelah air mineral dituang dalam kendi saya sodorkan, tanpa diminta Pamela Safitri lalu bercerita tentang garam.

“Di Kalianget Madura itu, para petani garam nggak peduli dengan harga garam. Mau naik atau turun, mereka nggak peduli. Buktinya, mereka tetap memproduksi,” kata Pamela Safitri.

Saya diam. Menyimak menjadi pendengar yang baik.

“Begini. Saya itu pernah mendengar ada yang namanya kartel garam. Entah apa itu, mungkin sejenis ketel yang bisa buat menanak garam menjadi nasi. Nah, kartel itu ada tujuh. Entah tujuh orang entah tujuh perusahaan. Tapi tentu bukan tujuh naga, seperti cerita silat,” kata Pamela melanjutkan.

Pamela Safitri kemudian menyebutkan bahwa sejak tahun 2015 Menteri Susi sudah mengungkapkan adanya tujuh perusahaan yang bukan produsen-importir tapi mengimpor garam industri. Hal ini membuat garam impor industri merembes ke pasar dan memukul harga garam produksi petani.

“Data saya valid. Kalau sampeyan nulis ini, akan jadi media pertama yang berani melawan kartel garam itu. Saya lanjutkan ya, kalau manusia sejenis Menteri Susi yang langka itu menyebut ada tujuh perusahaan, tentu dia nggak bohong. Saya juga pernah mendapat bisikan dari Pak Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman. Mas Izal (jangan ditulis lho, ini sebutan saya pada beliau) Rizal Ramli saat itu bilang ada tujuh pengusaha yang diistilahkan sebagai begal garam.”

“Kalau cuma garam kok mbegal. Saya itu sejak kecil juga makan pake garam biasa. Malah pas bayi, kata simbok tuh kalau minum tajin juga pake garam sama gula jawa. Gitu aja kok mbegal,” saya mulai protes karena nggak tau arah obrolan mbak Pamela.

“Nanti dulu. Mereka disebut begal sama mas Izal karena mereka bisa membuat kebijakan menetapkan impor garam. Mereka nggak peduli dengan produksi garam dalam negeri. Itu kehebatan mereka. Bukankah pengusaha harus selalu berpikir keuntungan? Bukankah kanjeng Nabi juga menyarankan kalau mau kaya berdaganglah,” mbak Pamela terus nerocos.

Saya mulai bingung mau nulis apa.

“Dengan membagi kuota impor itu, tentu saja mereka bisa menetapkan harga garam mereka. Lha wong mereka yang jadi bakul kok. Kalau harga garam dari petani garam dalam negeri mahal, ya tentu saja mereka nggak mau beli. Meskipun mereka pemasok garam industry. Bakul memang harus gitu kalau mau kaya,” mbak Pam nggak berhenti nerocos.

“Nah, saya tahu harus nulis apa. Trus siapa saja tujuh begal garam itu?” tanya saya.

“Sabar, saya pasti jelaskan. Ini belum pernah ada di media. Jadi sampeyan mesti hati-hati,” Pamela Safitri kemudian meneguk air putih dari kendi.

“Yang pasti karena semua gudang garam di Indonesia itu isinya rokok, bukan garam. Jadi saya kira wajar kalau dianggap langka dan harganya jadi mahal,” Pamela bersemangat sampai dadanya berguncang-guncang.

Saya hanya bisa memperhatikan dadanya yang bergoyang-goyang itu. Sedemikian dahsyatnya goyangan dada yang lucu itu, sehingga teras ruang tamu saya ikut bergetar. Badan saya ikut bergetar.

“Mas…mas…kenapa? Mas,” Pamela Safitri mengguncang-guncang tubuh saya yang diam terpukau dan mata terpejam membayangkan.

“Mas….mas…. bangun mas…”

“Oalah wuasyuuu…. Sampeyan to. Bajindul tenan. Lagi mimpi malah digugah. Cweeleeeng….” Saya misuh kepada mas Anto sebagai tanda penutup mimpi saya. []

 

Edhie Prayitno Ige

Penulis, Cerpenis, Guyonis, Tetangganya Pak Prapto

 

Lewat ke baris perkakas