A password will be e-mailed to you.

Ada semesta yang selalu mendukung moral hidup

HIDUP macam apakah yang sejatinya ingin kita wujudkan? Secara alur waktu, kita jelas sedang melintasi masa yang telah dilewati para pendahulu. Kita tak punya pilihan lain kecuali melakoni hari ini, meninggalkan masa lalu, dan seolah menciptakan masa depan yang belum lagi ada. Bahkan ghalibnya takkan pernah ada. Masa di depan sana, hanya sekadar harapan yang diangankan manusia demi menghibur dirinya atas waktu yang tak terjangkau.

Pada hidup keseharian, nyata terlihat betapa sedikit sekali manusia yang bisa menerapkan hidup yang utuh, di sini, sekarang. Kita terus berlomba menuju suatu masa yang utopis. Agamawan termasuk yang paling getol menanamkan soal ini kepada para penganutnya. Tak sedikit yang bersilat lidah membicarakan jula-juli agama. Padahal perkara yang demikian, hanya diketahui oleh mereka yang sudah pamit dari panggung kehidupan. Surga neraka itu, ada. Akhirat pun demikian. Namun berbalahan tentang sesuatu yang tak tepermanai, sama dengan membual. Tak ubahnya menjual obat kebahagiaan. Kitab suci agama apa pun, hanya mengisahkannya belaka. Tak pernah sungguh benar menunjukkannya secara kasat, pada kita.

Lalu kerana ketakutan kita akan dosa, juga neraka, yang mengakar sejak masih kecil, perihal itu akhirnya diterima tanpa perenungan. Sehingga wajar bila penganut dan penganjur agama, hanya berisi sekumpulan ahli debat, penghapal ayat tuhan, perekam yang baik atas sejarah lampau para nabi tuhan, dan mereka yang akalnya terbakar–hangus (al-mamrur). Sulit bagi mereka mewujudkan agama, Islam misalnya, menjadi laku mulia. Agama yang notabene sah jika disebut norma, tersisa artefak–yang diunduh dari masa lalu yang jauh.

Kita tak pernah mau berjuang lebih keras memeriksa segala dogma yang telah jadi doktrin dalam agama. Termasuk mencari jawaban kenapa kita harus bertuhan, dan kenapa harus beragama. Jika hanya

Muslim saja yang berhak atas surga, lantas bagaimana nasib umat manusia sebelum Nabi Muhammad Saw dilahirkan?

Agama, adalah pemantik kesadaran manusia, bahwa tuhan tidak sedang bermain dadu dengan ciptaan-Nya.

Agama jelas bukan omong kosong. Butuh kecerdasan luarbiasa untuk mengatakan bahwa agama dan para nabi pembawanya adalah isapan jempol sejarah. Sudah terlampau banyak darah yang tumpah tersia, atas pendakuan klaim kebenaran. Tak terhitung pula jumlah peperangan konyol atas nama agama. Segala aturan dalam beragama, bukan demi menyenangkan tuhan. Dia tak butuh apa pun dari kita, sebab semesta ini adalah milik-Nya. Agama itu Kebaikan. Maka berbuat baiklah, kerana buah manisnya untuk diri kita semata. []

 

5 Agustus 1438 H

Ren Muhammad

Penulis, praktisi sufi, founder khatulistiwamuda

Lewat ke baris perkakas