A password will be e-mailed to you.

    Cover Layla, Berbicara Islam Nusantara

Judul : Layla, Seribu Malam Tanpamu
Penulis : Candra Malik
Penerbit : Bentang
Cetakan : kedua, Mei 2017
Tahun terbit : 2017
Jumlah halaman : ii + 262
ISBN : 978-602-291-383-2

Kehidupan selalu menyimpan misteri yang kadang sulit dipecahkan oleh logika dan pemikiran manusia. Semua itu menandakan bahwa manusia hanya bisa menyimpan karma dan terus-menerus berusaha untuk mendalami dirinya sendiri. Sebab, jawaban dari semua pencarian ada di dalam dirinya.

Kadang kala cara itu didapat dengan mendatangi para bijak bestari, kaum sufi, maupun kiai. Melalui orang-orang dengan kemampuan lebih inilah, dunia dan seisinya bisa dipandang dengan cara yang berbeda. Mereka memegang kunci untuk menguraikan segala benang kusut yang tak dimiliki orang biasa. Hal itulah yang dilakukan Lail (Walaili Wannahar), tokoh utama dalam novel Layla karya Candra Malik (2017)

Sejak usia sekolah dasar, Lail terbetot pada dunia sufi Islam dan makrifat Jawa berkat Abah Suradira yang kukuh mengangkatnya jadi murid. Kemudian kita tahu itu bukan kebetulan karena ayah Lail, Pak Sukarsa, dengan Abah Suradira adalah sekawan ketika berguru dengan Simbah Atmo. Jika Suradira dipercaya mengajarkan ilmu dan penjadi penerus Simbah Atmo, maka Sukarsa adalah penjaga benda-benda pusaka yang memiliki kesaktian tertentu.

Maka, perjalanan Lail menemukan cintanya pada Layla sang gadis misterius adalah juga perjalanan mengenal Allah, tuhannya. Dari sinilah Lail memahami bahwa segala sesuatu tidak terjadi karena kebetulan, bahwa satu dan lain hal saling terhubung. Karena itu, jika ia mencoba menghindar atau mengelak, jika memang jalannya, maka simpul-simpul takdirnya akan terkait kembali.

“Jika bukan rejekinya, maka seseorang tak akan pernah bisa dipaksa menerima urusan tertentu. Jika memang rejekinya, maka tak bisa pula ia dipaksa menolak (hlm 17).”

Sekuat apa pun Lail berusaha mencari Layla, sang gadis idaman tak juga ditemukan. Kita pun belajar bahwa hakikatnya cinta tak bisa dipaksakan. Ia justru akan datang sendiri jika manusia berhenti mencari dan mulai pasrah. Begitu pun pada Tuhan, pasrah dan penghambaan mutlak diperlukan sebagai syarat cinta.

Lalu, jika semuanya sudah ditakdirkan, untuk apa manusia itu diciptakan? Begitu Lail pernah menggugat. Abah Suradira pun menjawab lugas, “ya, untuk menjalani takdir itu.” Tajam dan menohok kesadaran.

Bahkan, seperti juga cinta, Tuhan bersifat tersembunyi. Dalam sebuah hadis Qudsi dikatakan, “Aku cinta untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk untuk mengenali-Ku (hlm. 123).

Cara itu pun ditempuh Lail dengan mendatangi satu per satu guru tarekat di Jawa. Menariknya, semua nama kiai dan tarikat dalam Layla didasarkan pada tokoh yang benar-benar ada. Dalam hal ini, terasa betul Candra Malik menggunakan suara tokoh utama untuk menyuarakan pikirannya dan meluruskan hal-hal yang selama ini sering dituding keliru. Misalnya saja soal selametan, persembahan makanan dalam upacara, berdoa di makam keramat, dan pusaka-pusaka atau jimat. Bahwa semua itu adalah media yang tidak boleh membelokkan pandangan kepada-Nya.

Namun, tentu saja yang paling rahasia adalah cinta. Seperti Abah Suradira mengungkapkan, “Cinta itu rahasia Allah yang sangat rahasia. Kita tidak benar-benar tahu mengapa kita jatuh cinta. Tidak ada yang salah dari jatuh cinta dan tidak ada yang benar dari jatuh rindu (hlm 122).

Cinta memiliki dimensi yang luas terkait banyak jenisnya. Perasaan sayang, cinta, dan hormat bisa muncul kepada pasangan dan bahkan kepada lawan jenis yang bukan pasangan. Bukankah menyakitkan menahan cinta yang tak diketahui, hingga bahkan Rasulullah menyamakannya dengan mati syahid?

Cinta adalah persoalan yang paling kompleks dalam persoalan manusia. Dalam novel inilah Candra Malik menariknya dengan persoalan spiritualitas, sehingga akhirnya kita tersadarkan, mengapa Wallaili Wannahar—mengapa siang dan malam? Bukankah, seperti apa pun juga, siang tak bisa bertemu dengan malam?

Bagi manusia modern yang sering bergulat dengan rutinitas dan hal-hal banal, tema yang ditawarkan Candra Malik menimbulkan tanda tanya. Apakah masih ada orang seperti Lail? Seorang pemuda usia dua puluhan yang mengabdikan hidupnya untuk berburu tasawuf? Bagi saya, Lail adalah tokoh nyentrik yang merupakan representasi diri pengarangnya sendiri.

Selain itu, pendeskripsian Candra Malik mengenai Islam Nusantara membuat kita patut menduga keras Gus Can—demikian dia akrab disapa—tengah berusaha menekan stigma-stigma buruk cara berislamnya sebagai besar orang Indonesia terkait gerakan memurnikan Islam yang hari-hari ini semakin besar.

Secara keseluruhan, di luar ending yang sangat filmis, Layla memberikan gambaran komprehensif mengenai dunia tasawuf dan sufi yang hidup berdampingan di Pulau Jawa, bahwa cara berislamnya orang Jawa—seperti dikatakan Clifford Geerzt dalam Religion of Java—memberi tempat pada hal-hal yang bersifat mistik. Khususnya, perihal dunia pesantren dengan segala magnet dan keistimewaan yang melingkupinya.

Maka Layla sesungguhnya adalah sebuah kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya sangat filsafat, yang bersumber dari kegelisahan-kegelisahan yang paling manusiawi.

Fadjriah Nurdiasih, adalah alumnus Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, bergiat di Klub Baca Betawi, kini editor di Liputan6.com.

Lewat ke baris perkakas