Pertunjukan Wayang dalam sebuah perayaan Natal

Saya dilahirkan dalam keluarga Katholik taat yang sangat taat. Bapak dan simbok saya almarhum di Muntilan, setiap Sabtu sore atau Minggu pagi sebelum subuh sudah mengajak kami, delapan anaknya berjalan kaki ke Gereja Santo Antonius Muntilan yang berjarak sekitar dua kilometer.

Semua anaknya ketika SMA atau setara, disekolahkan dalam sekolah Katholik. Tujuh anak di SPG Van Lith, sekolah rintisan misionaris pertama Romo Van Lith, dan dua di Yayasan Katholik lain. Secara singkat, kami dididik dengan cara Katholik.

Namun bapak dan simbok saya, ternyata tergolong orang yang tetap menginjak bumi. Agama Katholik yang impor itu, disempurnakan dengan falsafah Jawa dan juga berbagai perilaku Jawa. Setiap malam, kami, anak-anaknya “dipaksa” mendengarkan cerita wayang kulit dari radio Phillips kuno. Radio tabung peninggalan Belanda.

Tak hanya itu, setiap tengah malam, tak jarang kami “dipaksa” melihat simbok keluar rumah, dan berdoa di halaman rumah. Tanpa sesajen, tanpa ritual aneh-aneh. Hanya berdoa saja.

“Dedonga karo nyawang langit, nyawang gunung kuwi marai iso rumangsa. Rumangsa mung menungsa kang cilik ora ono apa-apane dibandingke jagad. (Berdoa sambil menatap langit, melihat gunung itu menjadikan kita tahu diri. Hanya manusia yang sangat kecil dibanding jagad raya),” kata simbok.

Dalam perkembangannya, kami anak-anaknya berdelapan tumbuh besar sesuai garis alam. Kami memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Lima kakak saya dan satu adik saya tetap menjadi Katholik taat. Satu kakak saya menjadi seorang muslim kejawen, dan saya sendiri seorang muslim yang entah.

Romo Matheus Widyo Lestari MSC, kakak kandung saya nomer 6 yang menjadi Pastor Paroki Kutoarjo

 

Setiap Natal, kami saling mengucapkan selamat. Kakak saya nomer enam menjadi Pastor paroki di Kutoarjo. Yang lain menjadi guru. Meskipun seorang Pastor, Romo Widyo Lestari MSC terlibat juga dalam aktivitas penegakan HAM dan kebebasan beragama.

Ketika bertemu, tak ada sedikitpun cerita mengenai keimanan kami. Bahkan ketika Simbok wafat, selain dilepas dengan misa Requiem, ternyata saya dan kakak saya nomer 4 yang muslim kejawen itu, tetap bisa mendoakan dengan cara kami.

“Monggo saja didoakan sesuai yang kamu yakini. Boleh kok. Yang tidak boleh itu kalau tidak didoakan,” kata Romo Widyo Lestari.

Begitupun ketika bapak dan kakak sulung saya yang meninggal pada hari yang sama. Semua dilakukan sebagaimana mestinya. Kami tetap bersatu dan kompak dalam perbedaan.

Saya jadi ingat kebiasaan almarhum bapak yang gemar mendengarkan wayang kulit. Bapak pernah bercerita bahwa sejak dulu orang jawa telah mengenal Semar. Bahkan Empu Panuluh dalam Gatutkaca Sraya yang ditulis tahun 1188 Masehi, menyebut tokoh punakawan Semar dengan nama ”Jurudyah Prasanta Punta.”

Keseharian keluarga kami, Kedua dari kanan adalah kakak sulung saya MM Mujiati (guru agama Katholik) yang sudah almarhum.

Pergeseran jaman kemudian menjadi ”Jodeh Santa” dan berubah lagi menjadi Lurah Den Mas ”Prasanta” dan di dalam cerita panji dikenal dengan nama Semar. Semar memiliki banyak nama, dalam wayang golek mendapat julukan ”Sanghyang Wiraga Jati.” Ia seorang dewa dengan nama asli Sanghyang Ismoyo yang menjelma menjadi manusia dan berperan sebagai punakawan Pandawa.

Dengan keterbatsan pengetahuan, almarhum Bapak bercerita bahwa Natal bagi orang Jawa memiliki penghayatan berbeda. Ini disebabkan karena orang Jawa yang akrab dengan wayang, ternyata mudah menerima agama sebagai tradisi baru dalam kehidupan spiritualnya.

Ketika Empu Panuluh memberi nama tokoh Semar dengan ”Santa”, brangkali berhubungan dengan tradisi Kristiani yang berarti orang suci. Semar alias Jodeh Santa adalah punakawan yang merupakan tokoh rekaan. Kendati Semar dikisahkan sebagai jelmaan Dewa Ismoyo, dia digambarkan dalam wujud aneh dan lucu dengan kedudukan hina hanya sebagai hamba para Pandawa.

Saya masih ingat, dalam setiap homili/khotbah misa, Yesus Kristus adalah salah satu unsur Trinitas yang diimani sebagai Tuhan yang ”turun” ke dunia. Ini mirip dengan keyakinan orang Jawa memahami Semar sebagai jelmaan dewa.

Imaji Semar rupanya mendasari mayoritas umat Kristiani di Jawa untuk mengenal sosok Yesus Kristus. Orang-orang Jawa dapat dengan mudah menerima Yesus Kristus yang mengajarkan cinta kasih, pengampunan, kepedulian terhadap sesama dan ajaran-ajaran kemanusiaan universal lainnya. Kendatipun, Yesus Kristus digambarkan dengan wajah bule dan berambut gondrong.

Kami saling mengunjungi keluarga lain yang merayakan Idul Fitri. Semua bergembira

Kakak saya, Romo Widyo Lestari MSC secara tersirat pernah ngobrol dengan saya bahwa dalam konteks kekinian tidak harus ada gambaran seperti wajah Yesus Kristus yang diimpor dari Barat. Yang utama adalah sudah menjadi orang baik, penuh kasih, gampang memaafkan, peduli pada makhluk lain.

“Jangan terjebak pada ritual. Ada beda antara manusia religius dan manusia spiritual,” katanya suatu kali dalam grup Whatsapp keluarga kami.

Itu pula yang membuat umat Katholik di Kutoarjo menjadi lebih terbuka. Dalam setiap misa tertentu, kakak saya yang lebih bersih dibanding saya itu selalu menyelipkan doa untuk Riyanto, anggota Banser yang tewas terkena bom. Mendoakan Gus Dur, mendoakan KH Hasyim Muzadi, dan secara umum juga mendoakan makhluk lain.

“Ed, jalani apa yang kamu yakini. Percayalah ketika menjadi orang baik, kamu sudah merasakan surga,” demikian pesannya.

 

Edhie Prayitno Ige, Penulis-cerpenis. Tetangganya pak Prapto