Dalam kasta kuliner Jawa, mie atau bakmi tergolong makanan yang serba tidak jelas jenis kelaminnya. Makanan pokok bukan, lauk bukan, snack juga bukan. Dalam strata sosial makan besar, posisinya hanya sebatas pelengkap. Ya pelengkap.

Namun siapa sangka jika di Muntilan, kota kecamatan di Kabupaten Magelang, ada sebuah warung mie yang terletak di pelosok dengan dikelilingi sawah, saat lepas maghrib sampai malam, larisnya bukan main. Ada saja pembeli dengan parkir mobil berderet-deret, jauh dari jalan raya.

Warung sempit nan sangat sederhana itu bahkan seperti sebuah teater yang mempertunjukkan “kanibalisme” pembeli setiap harinya. Saling sikut, saling himpit. Dengan ilustrasi musik teriakan pesanan…..wow sungguh mengerikan. Segala jenis karakter naluri hewani berkumpul.

Dengan kasta bakmi yang tidak jelas jenis kelaminnya itu, ternyata membuat reaksi lidah warga Muntilan juga menjadi ikutan tidak jelas. Makan mie godhog saja, orang merasa belum makan. Jika dicampur nasi, malah kekenyangan dan seperti manifestasi kerakusan. Karakter mie godog ini sangat sensitif dan egois.

Kerumunan pembeli yang rela mendorong sesamanya, menginjak kaki pembeli lain itu, anehnya terjadi melewati batas kasta sosial. Bisa saja seorang kuli panggul menyerobot pesanan sosok bermobil BMW atau sebaliknya. Kasta sosial pembeli menjadi lebur.

Seperti terlihat pada suatu hari, seorang perempuan dengan gaya berdandan wanita karier, terlihat keluar dari kerumunan. Di tangannya memegang satu tas plastik kresek warna hitam.

“Alhamdulillah masih kebagian tiga. Nanti mama bisa merasakan lezatnya bakmi godog ini,” katanya penuh kemenangan saat melapor kepada seorang wanita tua yang menunggu di mobil.

Reaksi ibu-ibu pemilik warung tak kalah dinginnya. Setiap ditanya pemesan, selalu dijawab asal sebut saja.

“Nunggu 97 ya mas. Kalau sabar monggo. Nggak ya nggak papa,” begitu reaksi si pemilik warung.
Warung itu juga menyuguhkan drama kesombongan yang meledek nurani. Ada saja pembeli yang mencoba mendramatisir suasana.

“Wah sudah habis mbak. Makanya kalau ke sini lebih gasik,” kata pembeli lain. Ucapan biasa namun akhirnya menjadi ledekan dan menista pihak yang tak kebagian.

Situasi tak manusiawi yang sangat dinikmati para pemburu bakmi godog tengah sawah dan penjualnya itu, ternyata mengusik seorang perempuan setengah baya. Namanya Khusnul Nurhidayah. Biasa dipanggil Mbak Inung.

Dengan memanfaatkan sebuah tanah kosong, ia membuka warung bakmi yang sama. Meski sama-sama laris, namun warung satu ini berbeda.

“Bagi saya, namanya bakmi ya bakmi saja. Selezat apapun rasanya, ia hanya akan dimakan sekadarnya,” kata Mbak Inung.

Menurut Mbak Inung, keberadaan sebuah warung, selaris apapun tidak boleh menimbulkan “gegar sosial”. Sebuah guncangan sosial yang akan meruntuhkan nilai kemanusiaan.
Antrean panjang, prestise, gengsi, penasaran kolektif, sejatinya hanyalah imajinasi yang dibangun secara massal. Imajinasi itu hanya berfungsi menggairahkan pembeli sehingga tak perlu tim marketing handal.

Itu sebabnya, orang yang berpuasa seringkali kaget dengan perasaan laparnya. Ia merencanakan makan ini itu, namun ketika bedhug maghrib tiba, semua musnah oleh seteguk teh manis hangat.
Suharmi Pertiwi, salah satu pembeli di warung Mbak Inung menyebutkan, seringkali rasa lapar dianggap sebagai sosok yang tak terjangkau. Yang misterius. Yang butuh pelepasan mahal.

“Padahal kadang cuma butuh teh panas seteguk. Atau bakmi godog setengah porsi,” kata Suharmi Pertiwi.

Jajan di warung Mbak Inung, obrolan antar pembeli sebagai manusia sungguh hidup. Bahkan ada juga yang saling mengalah. Meski sama-sama butuh. Menu yang ditawarkan juga biasa. Bakmi goreng/godog, bihun goreng/godog, nasi goreng/godog, kwetiau, capjay. Tak ada yang istimewa.

“Namun selalu saja ada pembeli atau kadang Mas Anto (suaminya Mbak Inung) yang selalu memberi penyadaran. Bahwa lapar itu hanya ‘disini’. Hanya butuh mie atau yang lain. Bukan ‘disana’ yang butuh penuntasan dengan mobil mewah, istri muda, menguruk pantai,” kata Suharmi.

Dengan bekal Rp 10 ribu, cukuplah menikmati bakmi godog atau menu lain di warung Mbak Inung. Ingat, lapar itu hanya butuh penuntasan beberapa menit, bukan dengan sebuah pulau, bukan dengan pesawat pribadi.

 

penulis : edhie prayitno ige

(penyair, cerpenis, novelis)