TERTIB sebuah keadaan selalu ditandai oleh aneka disiplin. Salah satunya adalah disiplin ruang. Tak bisa dibayangkan jika garis edar planet tidak patuh kepada ruang.

Kehidupan tak penting lagi dibicarakan karena akan langsung selesai. Begitu juga ruang-ruang yang lain, misalnya ruang khusus dan ruang umum. Dua ruang ini harus dipisah karena memang terpisah. Tapi makin ”maju” sebuah keadaan makin maju pula sebuah ruang.

Makin banyak ruang khusus yang diumumkan dan makin banyak ruang umum yang dikhususkan. Soal-soal seperti perbedaan akidah, beda paham dan keyakinan yang jelas-jelas khusus sering tidak dibicarakan dalam konteks yang khusus dalam ruang khusus dan tidak pula dengan bahasa khusus.

Maka apa pun alasannya, bahkan untuk alasan kebaikan sekalipun, jika mobil sedan digunakan untuk mengangkut bahan bangunan, akan jauh lebih banyak persoalan yang ditimbulkan. Manfaat tentu ada. Tetapi makin sering dijumpai kadar manfaat yang tak sepadan dengan kadar kerusakan. Kini penjarahan ruang-ruang khusus dan menjadikannya sebagai tempat umum terus menunjukkan grafik meninggi.

Tanda-tanda awalnya dimulai dari makin bertambahnya jumlah anggota tubuh yang bersifat pribadi tetapi makin diumumkan dari hari ke hari. Dada, paha, pantat, ketiak yang mestinya ditempatkan di ruang khusus kini mulai dibuat terbuka untuk umum.

Tetapi ketika si umum itu benar-benar hendak menikmati pemilik tubuh itu mengaku sebagai pihak yang dizalimi. ”Saya diperkosa,” katanya. Dari zona tubuh, ”pengumuman” atas soal-soal yang khusus itu bisa melebar ke areal yang lebih luas. Ke seluk-beluk keluarga.

Jika sebuah kamera hendak merekam pesta perkawinan kini tak cukup hanya di tempat peraduan tempat pengantin disandingkan tetapi juga harus sampai kamar kado, kamar pengantin dan makin lama malah sampai ke caranya menjalani persalinan. Semula yang disyuting cukup bayinya lalu ibunya.

Seluruh detail rahasia direkam untuk diumumkan kelak kalau cocok harganya. Kalau ingin melihat rekaman yang bersifat konfidensial cukup dipasangi rambu: wani pira? dan semua akan menjadi terbuka. Dari ranah keluarga penjarahan itu bisa melebar ke wilayah yang lebih lebar lagi, misalnya jalan raya.

Kali ini adalah penjarahan yang sebaliknya yakni ranah umum menjadi tempat khusus. Jalanan yang baru bisa berfungsi sebagai jalan jika hukum ”umum”-nya dipatuhi itu sering kehilangan hukumnya karena banyaknya penonjolan hukum pribadi.

Ada knalpot yang sengaja dibuat demikian keras seolah-olah seluruh kuping hanyalah kupingnya sendiri. Ada belokan yang dianggap belokan pribadi hingga kalau ia berbelok tak perlu melihat kanan-kiri. Dari situ penjarahan ruang itu bisa terus dan terus melebarkan. Sampai ke konsep waktu di kepala.

Kini setiap waktu harus menjadi waktu pribadi. Tak ada lagi tempat untuk sekadar menatap lawan bicara, tak peduli ia adalah orang yang kita cintai karena kesibukan kita melihat e-mail dan update status Facebook. Makin lama manusia makin sulit bahkan untuk memiliki dirinya sendiri.

 

PRIE GS

~ Budayawan, Kolumnis, Kartunis ~