Dalam laman http://www.depkes.go.id/article/print/16060300002/htts-2016-suarakan-kebenaran-jangan-bunuh-dirimu-dengan-candu-rokok.html, kementrian kesehatan melansir adanya peningkatan jumlah perokok. Di laman yang judulnya dahsyat dengan frasa “suarakan kebenaran” di bagian depan, disebutkan bahwa jumlah perokok terus meningkat.

Laman yang operasionalnya, penulisnya, internetnya, bahkan pengadaan komputernya dibeayai negara (salah satunya mungkin dari cukai rokok) itu adalah respon dari angka kematian akibat rokok yang dirilis WHO, organisasi mereka yang hebat dan peduli pada kesehatan. Tingkatnya dunia lho, dunia bro….

Nah, data kematian akibat rokok, ternyata tak ada yang sama benar. Misalnya  di Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) dan Lembaga Kesehatan Dunia (WHO), jumlah perokok di Indonesia menempati peringkat ke-3 di dunia, lebih dari 80 juta penduduk Indonesia merokok. Dari angka itu,  kematian akibat merokok di Indonesia mencapai 427.948 orang setiap tahunnya atau 1.172 perhari.

Itu postingan http://opini.fajarnews.com/read/2016/07/25/12279/kematian.akibat.merokok.1.172.orang.per.hari Juli 2016 lalu lho. Tentu sekarang makin meningkat ya. Ngeri? Hahaha. Tunggu dulu. Yuk kita bermain matematika ala teman saya Ari Bubut.

Ari Bubut adalah seorang guru matematika. Ia juga aktivis teater, juga wartawan di media daring ngetop nasional. Saat ini tinggal di Demak. Cukup ndeso untuk memahami angka-angka ilmiah dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) dan Lembaga Kesehatan Dunia (WHO).

Kita awali dari angka kematian akibat merokok di Indonesia mencapai 427.948 orang setiap tahunnya atau 1.172 perhari. Dengan metodologi riset asal-asalan, Ari Bubut kemudian membagi jumlah penduduk Indonesia dengan korban mati akibat rokok. Maka angka 257.912.349 jiwa kemudian dibagi 427.948. Ketemunya 602,672. Kita bulatkan saja jadi 600 deh. Diskon dua koma bolehlah.

Dengan Itung-itungan Ari Bubut itu, maka di tiap 600 orang, akan terjadi kematian satu orang akibat merokok setiap tahunnya. Masih dengan metodologi ngawur, satu angka kematian akibat rokok itu kemudian diverifikasi.

Mari tengok sekitar kita. Mulai dari keluarga, tetangga, tempat kerja, teman pijet, teman mabuk, teman nonton bokep dan sejenisnya. Kira-kira kalau hanya mencari angka 600 orang gampang kan? Kemudian angka 600 itu kita bandingkan dengan usia kita. Anggap saja 20 tahun, biar kelihatan muda dan dikira masih jomblo.

Dari situ saja seumur hidup kita sejak lahir yang 20 tahun, tentu pernah menyaksikan minimal 20 kematian akibat rokok. Mengapa? Karena kematian kan terjadi 1 kematian di tiap 600 orang tiap tahunnya kan?

Benarkah demikian? Tiap tahun sampeyan melihat satu diantara para perokok yang mati itu? Tentu formula ngawur ini berlaku untuk setiap orang di Indonesia. Sebab, dengan pembagian 427.948 atas jumlah penduduk total 257.912.349 jiwa, maka semua jadi bagian dari angka 600 tadi.

Nah, jika benar itu yang terjadi, betapa seremnya benda bernama rokok itu. Hiii…ngeri ya.

Sekarang kita lihat gaya hidup mbah Nggotho, manusia yang mampu hidup hingga 147 tahun asal Sragen. Fajar Sodiq, adik kelas saya di SMP yang jadi wartawan top saat ini bercerita bahwa Mbah Nggotho ternyata seorang perokok berat. Lha kok bisa panjang umur?

“Itu anugerah Allah mas,” kata Fajar menjawab pertanyaan saya. Celakanya ia menjawab juga sambil udut. Modiaar…saya dikelilingi perokok.

Baiklah. Sekarang kita melihat Mbah Suparni, yang sukses menapaki usia 117 tahun dan masih hidup hingga kini. Warga RT 34/12 Dusun Sadang, Desa Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Mbah Suparni ternyata sukses menapaki usia sepuh itu meski hidup dikelilingi perokok. Artinya Mbah Suparni adalah perokok pasif yang katanya lebih berbahaya. Piye kuwi nek ngono?

Akhirnya saya mencoba mengingat-ingat banyak peristiwa. Artis Olga Syahputra, manusia paling lucu versi beberapa akun sosmed mengharuskan saya menitikkan air mata haru. Olga tak pernah merokok, Hidup di lingkungan yang bukan perokok pula, namun harus mati muda.

Rokok ternyata memang berbahaya. Karena merokok itu nggak bisa dilakukan sambil buru-buru. Kawan saya Harun Mahbub berkantor di Senayan City. Lingkungan yang melarang merokok mengharuskannya kreatif agar bisa merokok. Ia bisa saja makan, minum, mandi, bepergian, bahkan bekerja, dengan cepat dan tergesa-gesa. Namun untuk merokok, Harun Mahbub butuh waktu khusus.

Baginya, merokok itu seperti laku tuma’ninah. Sekali menyedot kretek, ia diamkan sesaat untuk pengendapan. Baru dikeluarkan pelan, sambil matanya memandang kepulan asap yang membangkitkan imajinasinya. Begitulah, mengalir, pelan dan tenang.

Melihat Gus Harun Mahbub, saya tak melihat sosok yang gegabah dan grusa grusu. Ada sesuatu yang mengalir, mengikuti aliran semesta. Dari anak Gunungkidul yang bermetamorfose menjadi orang metropolis itu, didapat fakta bahwa untuk menghabiskan sebatang rokok, Gus Harun butuh antara 15-20 isapan. Itu sambil diselingi minum kopi, baik gratisan maupun membeli.

Saya lalu membayangkan perjalanan hidup Mbah Nggotho yang mampu menapaki usia 147 tahun.  Perjalanan tuma’ninah Mbah Nggotho tentu sangat spektakuler. Dan dalam sehari, Mbah Nggotho mampu menghabiskan berbatang-batang rokok. Apakah itu yang membangun karakter bawah sadarnya sehingga senantiasa bisa bersyukur, menerima takdir, berupaya mengubah nasib.

Kita fair saja deh. Banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Pemikir dan pemimpin perubahan dunia lho bray… tenan iki. Mengapa? Karena tukang udut itu senantiasa bergerak pelan di kedalaman. Jernih menyikapi sesuatu dan memiliki imajinasi yang keren.

Mereka bukan kaum kemrungsung yang buru-buru menyimpulkan sesuatu dengan melihat dari permukaan saja.

Saya membayangkan ketika teori gravitasi dilahirkan, sebelumnya ada proses Isaac Newton yang leyeh-leyeh di bawah pohon apel sambil nglepus udut.

Belum lagi filsuf-filsuf keren macam Sartre, Galileo, Galilei, dan sejumlah penemu kelas dunia lainnya. Dari Indonesia, ada Sukarno, ada Suharto, ada Gus Dur yang semuanya menapaki jalan tirakat asap tembakau.

Lalu apa kesimpulannya nulis panjang tentang rokok ini?

Apa ya, sebenarnya ini hanya respon sesaat terhadap dua siswa yang nglecis udut di dalam kelas dari SMK PGRI 34 di ibu kota. Jauh dari tempat saya tinggal. Namanya respon sesaat, tentu nulisnya juga ngawur. Tentu saja saya juga akan ngawur menyimpulkan bahwa rokok memang bahaya.

Bahaya rokok yang utama adalah memberi ketenangan berpikir bagi penikmatnya. Bukankah yang paling berbahaya dari manusia adalah pikirannya? Jadi yang berbahaya bagi manusia bukanlah kerusakan paru-paru, jantung, tekanan darah atau organ tubuh lain. Melainkan jalan pikirannya.

Atau baiknya kita yang yangan ~biar dikira masih muda~ saja daripada ribut soal sanksi karena udut dan viral karena udut itu ya? ˆ

 

edhie prayitno ige

penulis, cerpenis, tetangganya pak prapto