Dalam beberapa kesempatan formal, saya biasanya tetap mencoba konsisten apa adanya, yakni mengenakan sandal jepit sebagai alas kaki. Ini bukan tanpa alasan, namun dilakukan dengan kesadaran penuh.

Alasan pertama jelas sekali bahwa sandal jepit seperti dalam foto ini, adalah alas kaki paling murah dan bisa terbeli dengan mudah tanpa harus menunggu pesta diskon Ramadan di mal. Harga menjadi pertimbangan pertama.

Kedua, sandal jepit sangat egaliter. Siapapun pernah mengenakan sandal jepit. Pak Harto, Pak SBY, bahkan Jokowi juga bersandal jepit, saat hendak wudlu salat jumat. Namun di sisi lain, Mas Kris, mas Nur, mbak Suliyah juga bersandal jepit saat bekerja.

Jelas sekali bahwa peradaban sandal jepit mampu menembus sekat politik, budaya dan strata sosial.

Ngomong tentang sandal jepit, sandal yang berwarna kuning ini merk Swallow. Ukuran nomer 9. Saat itu harganya masih sekitar tiga ribu rupiah.

Jangan menyepelekan sandal kuning ini. Ia pernah bertemu Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Gubernur Jateng Mardiyanto. Pertemuan itu terjadi saat terjadi gempa Yogya-Klaten. Saat liputan itulah sandal ini bertemu dengan mereka yang hebat. Sampeyan pernah?

Sandal kuning ini pernah hilang hingga 12 kali. Anehnya, ia selalu kembali. Ini menunjukkan semesta tunduk pada kesetiaan power of sandal jepit. Ia pensiun bukan karena hilang atau putus, namun karena kecelakaan takdir. Saat bak mandi di rumah tutupnya hilang, ia dipotong dan digunakan sebagai penutup.

Kemudian sandal hijau. Sandal ini tak kalah istimewa. Ia pernah bertemu cewek cantik Rieke Diah Pitaloka, Lula Kamal dan beberapa artis serta Wali Kota Semarang sejak jaman Sukawi Sutarip hingga Hendrar Prihadi saat menjadi Plt menggantikan Sumarmo.

Ini bermerk Mely, nomer 9 juga. Secara kenyamanan, ia kalah lembut teksturnya dibanding yang kuning. Namun ia menemani kerja hingga bertahun-tahun.

Sandal ini pensiun ketika pemotretan model Batik di kampung Lerep Ungaran tiba-tiba putus.

Jika diperhatikan, sosok berwibawa di belakang podium dengan sandal jepit biru merk swallow itu, ternyata ketika berbicara, audience lebih mendengarkan isi pembicaraannya. Bukan melihat merk alas kakinya.

“Kok sandalan, nggak sopan?” biasanya seperti itu tanggapan yang merasa direndahkan karena saya temui dengan sandal jepit.

“Jika saya dianggap nggak sopan, bagaimana dengan yang bersepatu mengkilat tapi korupsi dan akhirnya menghuni LP Cipinang? Atau para anak buah sampeyan yang laporan asal bos senang dan menjerumuskan juga bersepatu mengkilat? Jika tak mau ya sudah. Saya akan pulang. Masih ada pekerjaan lain yang mungkin butuh saya. Misalnya umbah-umbah dan asah-asah.”

Dengan alasan itu, saya mencoba konsisten membebaskan sandal jepit dari penjajahan simbol. Simbol kemiskinan, simbol kesederhanaan. Karena hakikatnya, sandal ya sandal. Otak manusia yang kurang kerjaan saja yang menghubung-hubungkan dengan dunia tertentu dan menjadi simbol.

Menungguh Sahur Hari ke Entah