Tikuse Pada Ngidung karya Mohammad Sobary. (foto: guyonis.com / zahid arofat)

Siapa yang tak mengenal film Tom and Jerry? Ya pasti banyak lah. Tapi, anak kelahiran tahun 2000-an tentu tak asing dengan film tersebut. Film dengan tokoh kucing biru dan tikus coklat tersebut selalu menjadi film kartun yang dinanti oleh anak-anak pada masanya. Bahkan ketika film tersebut diulang-ulang episodenya tak membuat bosan dan tetap menjadi tontonan menarik.

Kucing dan tikus memang dua jenis hewan yang hampir tak memiliki kemungkinan terjadi persahabatan layaknya kucing dengan anjing.

Ah, masa iya? Nyatanya dalam film tersebut terdapat beberapa episode yang menayangkan tom dan jerry bersahabatan. Nyatanya ada juga kucing yang bersahabat baik dengan anjing.

Aku kan bilangnya kemungkinannya sedikit, Brooo. Nah, yang bikin heran adalah si kucing Tom yang justru selalu dibuat kalah oleh Jerry. Si tikus Jerry memiliki tingkat kelicikan tinggi sehingga Tom terlihat seperti seekor kucing tolol.

Begitu pula yang digambarkan oleh Kang Sobary. Beliau menulis sebuah buku dengan judul Tikuse Pada Ngidung; tikus-tikus berkidung (bernyanyi).
Wah abot, Bro, judule. Berat.

Bernyanyi di sana memiliki arti sebuah kemenangan. Kemenangan atas apa? Kemenangan atas yang kalah lah tentunya.

Di dunia perpolitikan Indonesia tikus adalah lambang koruptor. Nah, film Tom and Jerry dan buku Tikuse Pada Ngidung adalah gambaran politik di Indonesia. Koruptor yang dilambangkan oleh tikus merajalela. Kang Sobary dalam bukunya menggambarkan tikus-tikus tersebut hanya dijaga oleh seekor kucing gering (baca: kurus). Korupsi semakin menjadi-jadi. Korupsi di sana-sini.

Siapa yang dirugikan? Negara tentunya. Ah, ku kira masyarakat menengah ke bawah yang lebih merasakan. Dalam sebuah kasus di masyarakat tikus selalu merusak tanaman di sawah, memakan simpanan padi, melubangi alas rumah yang hanya berupa tanah. Semua itu tentunya melekat pada masyarakat kelas menengah ke bawah seperti halnya para petani.

Bahkan tikus (werok) tidak pernah merasa takut sedikitpun terhadap kucing. Justru kucing yang logikanya pemangsa tikus dibuat mengkerut dan lari terbirit-birit. Artinya, jika memang kucing tak mampu menghadapi tikus, maka butuh pemangsa lainnya seperti ular, burung hantu, elang, dan pemangsa tikus lainnya.

Pun di Indonesia, bahwa KPK yang dilambangkan sebagai kecing tidak boleh bergerak sendirian. Populasi korupsi semakin tinggi. Harus diatasi! Maka KPK butuh seluruh masyarakat untuk andil dalam pemberantasan korupsi. Jangan justru malah berkolabori dengan dalih kerabat sendiri. Seperti yang sudah tertulis di atas bahwa masyarakat Indonesia perlu membantu Tom dan Kang Sobary.
Kang Sobary kan bukan KPK yang memburu koruptor, Bro.

Ya setidaknya bukunya adalah kritik tak langsung terhadap realitas politik Indonesia yang dimenangkan oleh para tikus berdasi.

Sebentar! Aku masih belum paham bahwa koruptor menang. Menang atas siapa sih?

Mereka menang atas dirinya sendiri. Hati yang dianugerahi iman telah dikalahkannya. Jadi, sebenarnya siapa yang harus dilawan seluruh masyarakat Indonesia? Koruptor atau diri sendiri?

 

Zahid Arofat, penulis muda asal Pati.