Mbalekke modal kampanye? (foto : guyonis.com/zahid a)

 

Pilkada serentak telah usai. Berbagai lembaga survey penghitungan cepat (quick qount) tak henti-hentiya mengupdate suara masuk. Setiap jam bahkan menit. Namun, dari berbagai lembaga survey menunjukan data berbeda. Tunggu saja keputusan KPU,

Siapa pun yang menang nantinya terpenting adalah legowo, tetep rukun, dan amanah. Poin terakhir, amanah, merupakan sebuah tanggung jawab besar mengemban kursi kepemimpinan. Seorang pemimpin dalam dunia politik harus belajar dengan kaum petani.

Petani? Petani ki ngerti opo kok pemenang pilkada kudu sinau karo dekne?

Lho jangan salah, petani memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Bahkan bagi Bung Karno, revolusi menjadi medan kehidupan yang ditempuh dengan gagah-berani oleh kaum tani.

Panggung kehidupan kaum tani. Menanam, ngrumati, panen. Hasil panen sebagian gunakan untuk musim tanam berikutnya, sebagian lagi disimpan untuk kebutuhan sehari-hari. Kalu butuh bisa dijual sebagian. Tak jarang dari kaum tani tulen melakukan kalkulasi terhadap modal yang dikeluarkan untuk biaya tanam dan perawatan dengan hasil yang diperoleh. Seng penting duwe simpenan gabah iso kanggo mangan mbendino.

Di sebagian daerah sudah menjadikan tradisi bahwa musim panen haruslah dirayakan sebagai wujud rasa syukur. Bahkan Kang Sobary menuliskan dalam salah satu bukunya bahwa tradisi petani menyambut musim panen dengan gegap-gempita sebagai hari yang tetap penuh semangat perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang tak memberi mereka perlindungan untuk hidup secara lebih baik. Begitulah perlawanan kaum tani yang dilakukan secara sporadis, halus. Namun meski halus tetaplah merupakan sebuah perlawanan. Ngeri kan?

Kebijakan kartu tani yang dianggap akan mempermudah pertanian khususnya pendistribusian bubuk subsidi tak semulus yang diharapkan. Sebagian para petani justru dipusingkan ketika pembelian pupuk dibatasi. Pembelian pupuk sudah disesuaikan dengan luas lahan yang digarap. Padahal tidak semua petani menggarap sawah sendiri. Lho kan.

Tidak hanya itu, menyoal pendirian pabrik semen di Kendeng juga mengusik ketentraman kaum tani sekitar. Itu sebabnya kaum tani tak lagi melakukan perlawanan secara sporadis. Muncul tokoh-tokoh yang akhirnya mati-matian memperjuangkan itu. Berjalan dari Rembang-Semarang. Kenthir to? Cobo wae pemimpin daerah mlaku semono adohe, modiar.

Hati-hati, bagi calon pemimpin yang terpilih nantinya maupun yang saat ini sudah menjabat ojo wani-wani ngusik kaum tani. Kualat. Mereka tak pernah meminta yang macem-macem. Harapannya sederhana. Mugo-mugo hasil tanine melimpah.
Piye? Pantes kan kalau calon pemimpin harus belajar dari kaum tani?

Jangan berpikir tentang berapa besar modal yang telah dikeluarkan untuk kampanye, kemudian berpikir bagaimana cara mengembalikan uang itu kelak ketika terpilih. Jangan! Berpikirlah bagaimana mensejahterakan masyarakat, bukan perut kawan separtai dan atasan.

Kaum tani siap melantik pemimpin yang terpilih dalam pilkada. Seng dilantik siap opo ora?

 

Zahid Arofat ~ Penulis muda asal Pati, Jateng