Saya sebenarnya sangat tidak tetarik dengan proses debat calon pemimpin Indonesia. Tentu saja alasannya sepele, roh debat itu tak hadir.

Berdasar pengalaman debat calon presiden sebelumnya, debat dimanfaatkan untuk melihat visi dan solusi calon pemimpin atas suatu masalah. Yang terjadi kemudian, ketika si pemimpin sudah terpilih, publik serta merta melupakan apa yang disampaikan saat debat.

Tak ada seorangpun yang mempersoalkan tentang revolusi mental dan Nawacita. Sudahkah dua cita-cita itu dilaksanakan? Jika berhasil parameternya apa, jika gagal parameternya apa.

Sangat sulit mengkritisi nasionalisme Prabowo yang diajukan dalam debat periode sebelumnya, karena Prabowo tak berkuasa. Jika kemudian nasionalisme itu disandingkan dengan penguasaan lahan ratusan ribu hektar dengan status Hak Guna Usaha, barangkali itu sebuah upaya mengkritisi atau mempertanyakan keseriusan nasionalisme Prabowo.

“Tentu Prabowo tak harus serius membuktikan ide-ide dalam debat periode sebelumnya, wong dia gagal kok,” kata Nyai Tanjung, seorang Pesinden.

Dari Nyai Tanjung pula saya akhirnya terpancing untuk mencoba mengikuti dinamika politik. Tentu saja atas saran dan pertimbangan Nyai Tanjung.

“Seharusnya permasalahan yang muncul dalam debat itu kan pendapat Jokowi ada benaranya. Tapi bukan berarti pendapat Prabowo salah, tetap juga ada benarnya. Sebaliknya pendapat Prabowo benar, bukan berarti pendapat Jokowi salah. Jika sudah begini, maka kebesaran dan kerendahan hati siapapun yang terpilih nanti untuk menggunakan ide kompetitornya jauh lebih penting,” kata Nyai Tanjung.

“Butuh kerendahan hati si pemilik ide yang kalah kompetisi tapi idenya digunakan dong nyai?” tanyaku.

“Ya benerlah. Pemimpin memang harus rendah hati,” kata Nyai Tanjung.

Baiklah, kita tinggalkan semua yang diperdebatkan. Toh Jokowi benar dan baik, pendukung Prabowo juga tak mengapresiasi meskipun Prabowo juga mengapresiasinya. Begitupun dengan Prabowo yang menyampaikan kebenaran dan kejujuran, pendukungnya Jokowi juga tetap menertawakan dan menganggapnya bodoh. Jadi nggak penting membahas yang sudah lalu.

Mari berbicara mengenai debat yang akan datang. Sandiaga Salahudin Uno yang menjadi pasangan Prabowo Subianto, akan berhadapan dengan Kyai Ma’ruf Amin.

Tentu ini butuh strategi. Khususnya bagi Sandi. Bagaimanapun, semua yang dilakukan Sandi dianggap tak benar. Seakan-akan Sandi adalah bukan makhluk yang diciptakan Tuhan.

Tips pertama agar Sandi bisa “mengalahkan” Kyai Ma’ruf adalah dengan tak menganggap sebagai musuh. Hanya manusia yang tak punya musuh yang tak bisa dikalahkan. Terminologi kalah-menang hanya dikenal dalam perang, dalam permusuhan. Tentu sikap ini harus diikuti para pendukungnya. Jika nanti Sandi diejek, dibully, diolok-olok, para pendukungnya lebih baik diam dan tak menganggap sebagai musuh. Justru akan terlihat kualitas pendukungnya, siapa yang mengedepankan akal sehat, siapa yang selalu memancing kemarahan.

Tips kedua, Sandi harus bisa menempatkan Ma’ruf Amin sebagai seorang kyai dalam sebuah lembaga pesantren. Boleh tak setuju, tapi sebaiknya diam dan tetap hormat.

“Yang kedua ini, jika Kyai Ma’ruf selesai memaparkan idenya dan moderator bertanya, apakah ada pertanyaan, sebaiknya Sandi menjawab dengan tulus ikhlas ‘Saya ndherek dhawuh Kyai saja. Karena beliau adalah kyai saya.’ Jawaban ini akan menunjukkan derajat keikhlasan dan kenegarawanan Sandi. Jika hanya diucapkan sebagai basa-basi tentu energi yang terpancar adalah negatif sehingga akan ditertawakan. Tapi jika ikhlas dan sungguh-sungguh, semesta akan berpihak padanya,” kata Nyai Tanjung.

Yang ketiga, jika Sandi usai memaparkan idenya dan ditanya Ma’ruf Amin, tentu Sandi harus menjawab. Jawaban paling pas adalah dengan menempatkan Ma’ruf Amin sebagai Kyai pula.

“Sebaiknya bagaimana kyai? Tentu kyai lebih paham bagaimana mengatasi persoalan demikian. Dan sebagai kyai yang rendah hati, tentu kyai akan berbesar hati untuk sedikit membagikan ilmunya kepada kami, anak-anak muda yang kadang kelewatan bercita-cita.”

Nyai Tanjung kemudian menyampaikan bahwa Indonesia sangat produktif dalam memproduksi doa. Baik yang dilakukan secara seremonial macam gerakan 212 yang berjilid-jilid itu, hingga mujahadah dan doa-doa formal di istana negara. Produktivitas doa yang tinggi ini menjadi inflasi karena tak diiringi dengan produksi akal sehat.

“Makanya para pendukung calon presiden ini menjadi gampang marah, gampang menertawakan dalam arti merendahkan. Satunya melepas marah, satunya menjawab kemarahan dengan kemarahan bentuk lain, yakni tertawa,” kata Nyai Tanjung.

Sebagai penutup, Nyai Tanjung kemudian menyampaikan bahwa Sandi bisa memegang momentum debat untuk maksimal meraih simpati jika tak salah dalam bersikap.

“Sebelum mulai, sapalah kyai Ma’ruf, cium tangannya dan minta didoakan agar bisa menjalani debat dengan lancar. Demikian pula dalam closing statemen, Sandi bisa menyampaikan terima kasih dan meminta Kyai Ma’ruf untuk mendoakan Indonesia siapapun pemimpin yang terpilih nanti.” [][][]

 

Edhie Prayitno Ige, penulis asal Muntilan mukim di Semarang

Tetangganya Pak Prapto