Adrian Diarto

Enak lho jadi orang Jawa itu. Hal yang rumit dapat disederhanakan dengan bahagia. Dengan tulus dan lurus. Tidak bengkok dan miring.
Mari kita lihat dua hal tentang panggilan saja. Hal sederhana dan tidak rumit. Tidak usahlah tentang hal yang tinggi dan sulit seperti filsafat “manunggaling kawula-gusti”.


“Thole” itu kependekan dari “konthol”. “Konthol” adalah penis. Alat kelamin laki-laki. Sementara “wuk” adalah kependekan dari “gawuk”. “Gawuk” adalah vagina. Alat kelamin wanita. Lengkap dengan labia mayora, labia minora dan pubish.

Apakah sampai di sini pikiranmu sudah jorok? Sudah mesum? Sudah dekat dengan birahi karena merujuk pada area selangkangan?
Kalau belum mari kita teruskan!

Bagi orang Jawa, memanggil penuh hormat dan kasih bisa saja sambil berseru, “Le! Thole!”. Sementara memanggil penuh sayang dan welas juga bisa berteriak, “Wuk! Wuk!” Keduanya adalah ya itu tadi: nama alat kelamin!

Sampai di sini apakah kamu masih akan menyebut nama Tuhanmu? Mengatakan bahwa orang Jawa itu tidak beradab?

Masih hendak dilanjutkan? Baiklah, mari kita teruskan.

Secara imani, kecuali Adam, Hawa dan Isa Al Masih, semua dilahirkan melalui proses hubungan kelamin. Tentang Isa Al Masih bahkan ditulis dalam Kitab Injil dan Al Quran.

Hubungan badan, untuk memperhalus istilah hubungan kelamin (meski alat kelamin adalah bagian dari badan), adalah proses pembuahan sel telur oleh sperma dengan kemungkinan yang sangat kecil. Dari sekian sel sperma hanya akan ada satu yang berhasil membuahi sel telur. Dan bila proses alamiah berjalan wajar, maka akan tumbuh embrio manusia. Proses alamiah adalah istilah untuk memperhalus ketidakmampuan manusia melakukan campurtangan bagi keberhasilan proses kehidupan.

Memang hubungan badan melibatkan birahi. Melibatkan nafsu. Tetapi birahi dan nafsu adalah juga proses alamiah untuk merangsangbangkitkan syaraf-syaraf sehingga proses alamiah itu terjadi dan berlangsung.

Apakah sampai di sini pikiranmu sudah semakin jorok tak terkendali?

Tetapi dalam proses hubungan badan itu ada bagian yang tidak dapat dipaksahadirkan oleh dua orang manusia yang berkelamin berbeda, yaitu: cinta. Cinta adalah kepenuhan diri sebagai pribadi yang merasa dicintai dan diterima apa adanya. Tidak usahlah bertanya dari mana definisi ini. Apakah definisi ini sudah melalui kajian atau riset sebelumnya. Definisi ini adalah definisi pribadi. Jadi anda tidak berhak bertanya atau menyangsikan.

Melalui dan di dalam cinta, manusia berperan penuh sebagai ciptaan yang mulia. Perasaan diterima tidak harus oleh manusia, dapat juga diterima oleh Tuhan. Lalu hidupnya didarmabaktikan kepada Tuhan. Sebagian mereka lalu memilih hidup selibat. Tidak menikah. Telalu ribet ya? Kalau urusanmu hanya tentang orgasme tentu sulit menerima hal beginian.

Dalam sudut pandang yang tidak jorok, tidak mesum dan tidak porno, hubungan badan yang dilakukan secara terhormat dalam tatalaku dan tataaturan kekudusan kodrat manusia maka ia adalah laku menghadirkan Tuhan. Misalnya, dalam hidup berkeluarga. Maka hidup dan kehidupan yang dihadirkan akan sebuah pemuliaan martabat manusia. Hadir sebagai ciptaan yang merupakan otoritas penuh dari Tuhan. Tidak ada bagian tubuh manusia yang jorok. Entah itu kepala, kaki tangan atau alat kelamin sekalipun.

Bagi orang Jawa, tidak terbersit pikiran pendek dan memalukan. Meski memanggil dengan sebutan nama alat kelamin itu. Entah itu “konthol” atau “gawuk”. Keduanya adalah panggilan hormat yang sepenuh-penuhnya untuk memuliakan kehidupan. Pun, sebutan “thole” dan “wuk” sudah berlangsung entah sejak kapan. Sejauh ini belum menemukan catatan khusus tentang itu yang dapat dibaca.

Artinya apa?

Artinya betapa mulia pemikiran orang-orang kuno itu. Orang-orang yang belum modern. Tidak mengenal gawai, tetapi kentongan. Tidak mengenal springbed tetapi balai. Tidak mengenal hardware tetapi tubuhnya dipahami sepenuhnya sebagai milik Allah semata. Maka kalau tubuh yang demikian mulia sebagai harta milik Tuhan terangsang pada patung putri duyung dari semen, bisa jadi itu adalah orientasi sexual yang sangat tidak lazim. Pikiran yang tersesat di tempat terang. Pikiran yang tersesat di tempat lempang! Apalagi lagi bila berpikir bahwa patung sebagai karya seni merupakan representasi hal jorok dan mesum.

Bisa jadi cairan pembersih yang paling keras pun tidak akan dapat membantu membersihkan kejorokan pikiran seperti itu.

Adrian Diarto adalah penduduk sebuah dusun kecil dengan hanya 17 rumah di lereng Gunung Merbabu.